Selasa, 14 Juli 2009

Deskripsi Diri

DESKRIPSI DIRI
OLEH : SAHIRUL HAKIM

Saya bernama Sahirul hakim, lahir didesa Nanga Empangau kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu pada tanggal 2 Agustus 1987. Saya adalah anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara, nama ibu saya adalah Daemah. Pendididkan ibu saya hanya sampai tamat SD di Nanga Temenang Kecamatan Embau, sedangkan bapak saya bernama Saleh dan pendidikanya sama seperti ibu saya yaitu hanya sampai tamat SD di Nanga Empangau. Dari tiga bersaudara, saya mempunyai satu orang kakak dan satu orang abang, kakak saya bernama Esah dan abang saya bernama Ahmad S, adapun pendidikan mereka berdua hanya sampai tamatan SD.
Setelah saya memasuki usia enam tahun, barulah bapak mendaftarkan saya kesekolah SD dikampung. Hari pertama kami masuk sekolah, saya sangat cepat berangkat kesekolah karena kata teman saya kalau tidak cepat berangkat kesekolah takutnya tidak akan dapat kursi lagi. Waktu itu kami berangkat sekitar jam enam pagi, kalau bahasa saya dikampung masih “lagik kebusau”, yang artinya hampir-hampir cahaya pajar kelihatan, karena semangatnya untuk berangkat sekolah sehingga berangkatnya cepat.
Sekitar tiga bulan lamanya menjalani pendididkan kelas satu SD kami langsung ulangan selama tiga hari. Selesai ulangan sekitar satu minggu lamanya kami dibagikan buku raport, ternyata nilai saya sangat jelek dan tidak mendapatkan peringkat dikelas. Sekitar satu tahun menjalani pendididkan kelas satu SD, kemudian kami menjalani ulangan kenaikan kelas dua SD, dan ternyata saya tidak naik kekelas dua. Biarpun tidak naik kekelas dua saya tetap bersemangat dan tidak gengsi, karena saya berfikir itu semua adalah tantangan dan cobaan. Mengapa saya tidak naik kelas karena saya jarang masuk dan kurang belajar, selain itu kurangnya motivasi dari orang tua untuk belajar. Setelah kami dibagikan buku raport, kami libur selama satu bulan lamanya. Biasanya kalau anak-anak yang lain saat liburan mereka hanya bermain- main dirumah. Sedangkan saya dibawa bapak kerja didanau untuk mencari ikan dan noreh karet sampai-sampai kami harus menginap didanau selama liburan.
Kata orang anak bungsu itu dimanja dan disayang oleh orangtua, akan tetapi saya bukanlah anak-anak yang mereka pikirkan itu. Akan tetapi malahan saya yang paling sering ikut orangtua bekerja, dikarenakan abang saya sering sakit-sakitan dan kakak saya yang cewek hanya membantu ibu bekerja dirumah.
Liburan telah berlalu, tibalah saatnya tahun ajaran baru untuk masuk sekolah. Dikarenakan saya masih kelas satu dan tidak naik kelas maka saya masuk bersama dengan adik-adik kelas satu SD. Untunglah pada saat itu tubuh saya tidak terlalu besar dibandingkan dengan adik-adik kelas yang baru, dikarenakan saat itu tubuh saya kurus.Masa pendidikan kelas satu tidak terasa sudah mau ulangan, sekitar dua minggu menjelang ulangan para guru baru mengumumkannya. Dikarenakan mau menjelang ulangan saya mulai giat belajar untuk menghadapi ulangan tersebut, alhamdulillah dengan kesadaran saya bisa mendapatkan nilai cukup bagus dibandingkan tahun yang lalu. Kemudian pertengahan ulangan sudah kami laksanakan, beberapa bulan kemudian kami ulangan kenaikan kelas. Dengan lebih semangat lagi saya belajar untuk bisa naik kekelas dua, dikarenakan saya sudah dua tahun duduk dikelas satu SD.

Dengan segenap usaha dan motivasi yang kuat untuk naik kelas, ternyata akhirnya saya bisa naik kekelas dua dengan nilai yang cukup bagus dan memuaskan. Tiba saatnya menjelang hari minggu dan liburan sekolah, jadi saat liburan inilah digunakan untuk membantu orangtua yaitu membantu bapak saya bekerja didanau dan bukan digunakan untuk bermain-main dirumah seperti teman-teman saya biasanya. Dikarenakan liburan yang cukup lama, jadi saya gunakan untuk tetap membantu bapak bekerja. Bapak dan ibu saya sangat sayang kepada anak-anaknya, sehingga apa yang kami minta pasti akan dikasihkan. Akan tetapi kami sebagai anak-anaknya tidak pernah meminta apapun dari orangtua kami, dikarenakan keluarga kami bukanlah keluarga yang mampu.
Selama saya menjalani pendididkan dibangku kelas dua SD, bapak saya tiba-tiba jatuh sakit selama hamper satu tahun sehingga akhirnya beliau meninggal dunia. Pada saat itu saya berusia 8 tahun, abang saya 10 tahun dan kakak saya 12 tahun. Ibu saya adalah ibu yang sangat sayang dengan anak-anaknya dan juga kepada suaminya, beliau yang selalu merawat bapak pada saat sakit baik waktu dirumah sakit maupun dirumah sendiri. Segenap usaha ibu lakukan demi kesembuhan bapak, sampai-sampai semua harta yang kami miliki habis kami jual demi kesembuhan bapak. Akan tetapi semua usaha dan pengobanan itu habis terbuang sia-sia, mungkin inilah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada saat bapak saya jatuh sakit dan meninggal dunia, kakak saya sudah tamat SD, abang saya baru kelas lima SD, dan saya sendiri baru naik kelas tiga SD.
Dalam keluarga kami sudah tidak lengkap lagi, dikarenakan bapak saya sudah meniggal dunia dan tinggallah ibuku yang harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarga kami dengan dibantu kakakku yang mana seharusnya kakakku melanjutkan pendidikannya ditingkat SMP, akan tetapi apalah daya hidup yang susah menimpa keluarga kami dan terpaksa kakakku harus bekerja keras membantu ibuku demi menghidupi keluarga kami.
Setelah saya naik kelas tiga, dengan nilai yang cukup membanggakan dehingga saya mendapat peringkat kelima dari 27 siswa. Setiap hari senin dan kamis kami diberikan makanan tambahan dari sekolah setiap pagi dan siang hari, adapun makanan yang diberi itu perupa bubur nasi dan bubur kacang hijau. Selama kelas tiga sampai kelas enam SD makanan itu selalu kami dapatkan, sehingga kami tidak merasakan kelaparan. Pada saat kelas tiga nilai saya sangat buruk sekali, dikarenakan waktu itu saya sering sakit dan jarang masuk. Setelah empat bulan mau menjelang ulangan barulah saya tidak sakit lagi dan saya bisa masuk kelas lagi sehingga alhamdulillah saya naik juga kekelas empat.
Tanpa terasa saya sudah duduk dibangku kelas empat SD, selama menjalani dibangku kelas empat SD usia saya sekitar 9 tahun. Masa inilah kenakalan saya sangat menonjol sekali sehingga sering mendapat hukuman, kenakalannya seperti terlambat sekolah dan pulang sebelum tiba waktunya. Biarpun sering mendapatkan hukuman, tetapi nilai saya tidak kalah dengan teman yang lain. Ulangan kenaikan kelas lima SD telah tiba, saya pun mengurangi kenakalan saya dan mulai belajar dengan rajin. Kemudian tibalah ulangan kenaikan kelas lima yang sudah ditunggu saat ini, alhamdulillah dengan segenap usaha yang ada saya naik kekelas lima meskipun hasilnya tidak memuaskan. Setiap liburan kenaikan kelas, saya selalu membantu ibu dan kakakku bekerja. Kami berangkat kerja dari jam 04.00 subuh dan pulangnya sekitar jam 03.00 sore dari kebun dan inilah pekerjaan rutin yang selalu kami lakukan setiap hari.
Sudah tidak terasa saya sudah kelas 5 SD, sebentar lagi mau kelas 6 SD. Yang mana dulu saya nakal, tetapi pada saat saya kelas 5 SD saya tidak nakal lagi. Pada saat kelas 5 SD inilah saya hampir putus sekolah karena kondisi keluarga kami pada saat itu sangat menyedihkan seperti bangunan rumah yang kondisinya sangat parah misalnya atap rumahnya sudah bocor dan lantai dapur sudah mau roboh. Dengan kondisi rumah kami yang sangat menyedihkan itu, saya pikir saya harus berhenti sekolah untuk membantu ibu saya memperbaiki rumah, ternyata abang saya tidak mengijinkan untuk berhenti sekolah. pada saat itu abangku sudah tamat SD sekitar dua tahun yang lalu, setelah dia tamat sekolah langsung merantau di kampung asal kelahiran ibu saya yaitu di Nanga Temenang, bekerja sebagai noreh karet dan mencari emas. Dengan kerja kerasnya sehingga dia bisa membantu ibu memperbaiki rumah.
Setelah beberapa lama menjalani pendidikan dikelas 5, tibalah pada saatnya kami ulangan kenaikan kelas 6. Untuk menghadapi ulangan tersebut dengan semangat saya belajar agar bisa naik kelas 6 dan mendapakan nilai yang baik. Ternyata usaha jerih payahnya saya belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus dan bisa naik kelas 6 tercapai, pada itulah saya mendapatkan rengking ke 5 dari 23 siswa.
Dengan masuk ajaran baru sekarang saya sudah duduk dibangku kelas 6 SD, yang bentar lagi mau menghadapi ujian nasional. Setiap hari kami yang anak kelas 6 mengadakan pengajaran tambahan yaitu les dari sekolah dari jam 02.00 sore sampai 04.00 sore wib. Kami harus bersaing dengan anak-anak Kecamatan, karena pada waktu itu kami ujian tidak dikampung harus di Kecamatan Bunut Hilir. Sekitar satu minggu ujian tersebut mau dilaksanakan, kami sudah siap-siap untuk berangkat ke Kecamatan Bunut Hilir untuk menggikuti ujian nasional, dengan menggunakan motor air menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari kampung ke Kecamatan, kami berangkat dari jam 09.00 pagi sampai jam 03.00 sore baru kami datang.
Hari pertama kami datang ke Kecamatan, langsung dibagikan kartu perserta ujian nasional. Malam hari pertama kami sudah di Kecamatan, tidak ada yang berani keluar malam karena besoknya kami udah mau ujian dan seterusnya sampai kami selasai ujian nasional. Ujiannya sudah selesai barulah perasaan kami tenang, kami diizinkan untuk bisa keluar malam sampai jam 10, karena kami mau belanja oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Setelah kami pulang dari Kecamatan Bunut Hilir, untuk mengikuti ujian Nasional tidak lama sekitar satu minggu kami langsung perpisahan dengan kawan-kawan , adek-adek kelas dan para dewan guru. Alhamdulilah, kami semua lulus semua di bangku SD selama 6 tahun.
Sekitar satu minggu kemudian saya dan abangku berangkat berkerja di kampung nenekku yaitu Desa Nanga Temenang, tempat lahirnya ibuku. Sekitar hampir satu bulan kami berdua kerja sebagai noreh karet dan gejek cari emas disungai Embau. Karena kalau kami kerja dikampung semua, waktu itu kebun karetnya belum besar dan sedikit untuk bisa ditorehkan, terpaksa kami dua abangku harus kerja diluar kampung. Tidak lama kemudian datanglah surat dari ibuku, sedangkan isi dalam suratnya cuman bilang “hakim gelanjut ndak ke SMP, kalau mau gelanjut pulang karena pendaftarannya sudah dibuka”. “ ya udah, adek kamu harus sekolah ye, biarkan abang yang kerja karena dalam keluarga kita belum ada tamat SMP. Adak harus sekolah jangan seperti abang? Abang sanggup membiayai adek sekolah kemana”. Ujar abangku (Ahmad. S. nama pangilan Engah ujang), dengan wajah yang semangat.

Setelah saya mendengar dari kata-kata Engahku tadi, saya teharu dan jiwa semangat untuk sekolah bangkit lagi. Hari selanjutnya saya lansung pulang kekampung halamanku dengan semangat mengejar pendidikan ke tingkat SMP. Hari selanjtunya saya dan ibuku langsung pergi ketempat pendaftaran tersebut. Kata ibuku “ uju, sekolah yang benar-benar kejarlah cita-cita kamu, jagan seprti ibu yang bisa membaca huruf Arab saja. Ibu harap uju, menjadi pemimpin keluarga kita”, saya menjawab dari kata-kata ibuku “ Insallah bu, aku akan ingat selalu kata-kata dari ibu dan akan aku perjuangkan sampai cita-citaku dapat”.
Hari pertama kami masuk SMP, aku sangat gembira sekali bisa sekolah seperti teman-teman lainnya dan bisa kenalan dengan teman-teman yang dari luar kampung seperti dari desa Teluk Aur dan Desa Ujung Said mereka sekolah SMP nya ditempat kampung saya. Biasa pertama kali masuknya berkenalan guru dan lingkungan sekolah dan sekitarnya, juga teman-teman. Setiap pagi-pagi, sebelum saya berangkat sekolah saya masak nasi dan nyapu ruangan setelah itu barulah saya mandi, sarapan pagi dan barulah berangkat sekolah, kegiatan seperti ini saya lakukan sampai selesai sekolah SMP. Mengapa saya setiap pagi-pagi harus masak? Karena ibuku dan kakaku tidak sempat masak mereka berangkat kerja noreh karet selesai sahlat subuh pulang tidak pulang kerumah sekitar jam 10.00 pagi, itu istirahat sebentar mereka berangkat lagi ke ladang, pulangnya sekitar jam 04.00 sore. Dengan itulah saya masak dengan ibuku dan kakaku jangan sampai mereka pulang kerumah masak lagi dan kerja lagi. Jadi mereka berdua tinggal makan datang kerumah, bukan hanya pagi-pagi tapi sore hari sekitar jam 03.00. saya juga masak dan beres-beres rumah dan gajarin anak-anak TPA dirumah setiap sore hari, dengan jumlah muridnya sekitar 20 orang.
Gedung SMP 2 Bunut Hilir di kampung saya tahun 2001 baru menjadi Negeri, pas kami masuk ajaran baru dan bangunan gedungnya pun baru. Sebelumnya kakak kelas kami dulu masih meminjam gedung SD, dan mereka sekolah siang sekitar jam 12.00 baru masuk. Sedangkan guru-guru SMP pada waktu itu sangat terbatas sehinga kadang-kadang mereka tidak belajar. Alhamdulilah, dengan sekolah SMP kami yang sudah Negeri dan gedung pun baru, serta guru pengajarnya cukup banyak dan mereka rata-rata tamatan S1.
Sudah enam bulan saya duduk di bangku SMP, barulah yang pertama kali diri saya dan teman-teman ikut ulangan semester di SMP. Pada waktu itu saya sangat rajin belajar, sehingga diri saya mendapatkan peringkat ke 5 dari 30 orang murid. Setelah abang saya mendengar bahwa saya mendapatakan peringkat ke 5, dia memberi saya sepatu dan tas untuk sekolah. Karena sudah enam bulan saya sekolah tidak mengunakan tas. Alhamdulilah, dengan pemberian abangku tadi saya sekolah bisa mengunakan tas seperti teman-teman yang lainnya. Setelah ulangan semester kami libur hanya dua minggu, liburan dua minggu itu saya gunakan untuk membantu ibu dan kakak saya kerja di kebun. Itulah kerja saya pada saat liburan sekolah.
Sudah dua minggu kami libur, barulah kami masuk sekolah seperti biasanya. Pada waktu itu saya dan teman-teman membaca madeng di sekolah, ada informasi tentang kegiatan ekstrakulikuler dari sekolah yaitu pramuka. Yang mana kegiatan ini akan dilaksanakan 3 hari lagi pas hari minggu. Semua dari kelas 1 sampai kelas 2 wajib ikut semua kegiatan pramuka tersebut. Karena baru pertama kali yang namanya ikut pramuka, jadi sangat-sangat seru kegiatanya, sehingga saya dan teman-teman sangat suka sekali yang namanya kegiatan pramuka.
Sekitar dua bulan mau ujian kenaikan kelas, sekolah kami di undang ikut POR PELAJAR tingkat Kecamatan yaitu di Kecamatan Suhaid. Yang mana kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap dua tahun sekali, yang boleh ikut tingakat SMP dan MTS. Kegiatanya seperti main bola kaki dan main bola voli prempuan. Dengan semangat siswa-siswi SMP Bunut Hilir untuk ikut kegiatan POR tersebut. Waktu itu saya mengikuti permainan bola kaki, posisi saya sebagai pemaian alas sebelah kiri.
Alhamdulilah, dengan pertahanan permainan bola kaki dan permainan bola voli kami mendapakan juara 3 bagi pemain bola kaki dan pemain bola voli mendapatkan juara 3, yang mana sekolah kami baru pertama kali mengikuti POR PELAJAR tersebut. Sehingga kami bisa membawa nama baik sekolah kami dengan pertasi yang baik.
Setelah kami pulang diri POR tersebut di Kecamatan Suhaid, satu bulan kemudian kami langsung ulangan kenaikan kelas. Ulangan kenaikan kelas baru pertama kali mengikutinya di SMP. Dengan tidak percaya diri saya mengisi ulangan kenaikan kelas II, karena saya takut kalau isinya nanti banyak salah, karena waktu itu saya kurang belajar untuk menghadapi ujian tesebut. Biarpun tidak percaya diri, ternyata saya bisa juga mengerjakan ulangan tersebut dengan baik. Saya sangat berterimakasih atas pemberiaan Allah kemampuan saya sehingga saya bisa naik kelas II SMP, dengan mendapatkan rengking 4 dari 20 murid kelas I.
Seperti biasanya saya kalau libur sekolah, saya membantu orang tua kerja sampai masuk ajaran baru lagi. Selama libur kenaikan kelas saya, Ibu dan Kakak setiap pagi angkat kerja noreh karet di Danau Aduk mengunakan perahu bandung dengan menempuh perjalanan 1 jam dan berangkat dari rumah habis salat subuh. Pekerjaan inilah yang saya lakukan setiap liburan sampai masuk lagi sekolahnya.
Sekarang saya sudah kelas II SMP, yang mana awalnya kelas I. Pada saat kelas II lah saya baru terkecimpung dalam organisasi sekolah (OSIS) selama saya kelas II. Dengan semangatnya teman menjalankan OSIS sehingga kami bisa kunjung kemana-mana. Kegiatan sekolah pun banyak yang kami adakan seperti Pramuka, Olahraga dan Kesenian. Dibidang Olahraga kami pernah menampatkan juara I bolla kaki tingkat Kabupaten di Putussibau tahun 2002, waktu itu kami bergabung dengan kecamatan Bunut Hilir, Embaloh dan Jongkong. Yang mana paling banyak permainanya adalah SMP kami. Sedangkan didalam bidang Kesenian kami pernah dimenampilkan tari jepin, poco-poco, dan tarian api di berbagai kegiatan seperti perlepasan ikan arawana didanau lindung dan acara lainnya.
Dikelas II lah saya mulai jatuh cinta dengan seorang cewek, dia berasal dari Desa Teluk Aur yang mananya Eka Wanti. Dialah yang selalu memberikan semangat dalam hidupku menjalani pendidikan. Tetapi sampai kelas 3 cinta kami berdua berakhir hingga sekarang. Tidak lama kemudian kami ulangan kenaikan kelas III , dikelas II inilah saya kurang belajar sehingga saya mendapatkan rengking ke 7 dari 20 siswa. Biarpun nilai saya menurun, masih tetap naik kelas III. Dikelas III lah saya benar-benar belajar dan tidak lagi mengikuti kegiatan sekolah, karena untuk menghadapi ujian Nasioal.



Dalam masa dikelas III, kami selalu ada pelajaran tambahan dari sekolah yaitu les selama sebelum datangnya ujian Nasional. Sekitar 2 minggu mau ujian teman-teman sudah ada rencana untuk melanjuti kesekolah SMA dan Aliyah, sementara saya tidak tahu melanjutkan atau tidak karena ibu saya tidak mampu membiayai saya ke SMA. Tidak lama kemudian datanglah abangku (engah), dari kampung nenekku dia bilang “ kamu sekolah lagi ndak? Kalau sekolah aku sanggup membiayai kamu sekolah” dengan wajah yang tersenyum melirik saya. Setelah saya mendengar dari kata-kata itu, saya pengen sekali melanjuti ke SMA atau Aliyah.
Setelah saya mendengar dari ucapan abangku (engah), saya semangat belajar dengan harapan bisa lulus dan bisa melanjuti ke SMA atau Aliyah. Tidak lama kemudian kami menghadapi ujian Nasional yang mana semua sekolah tingkat SMP atau MTS di seluruh Indonesia. Pada hari itulah menentukan kelulusan selama tiga tahun bertualangan di SMP. Alhamdulilah, dengan perjuangan kami semua dan berkat pertolongan Allah SWT, sehingga kami lulus semua dengan nilai yang terbaik.
Setelah perpisahan dengan teman-teman dan para dewan guru, sekitar satu minggulah, paman saya yang kerja sebagai KUA di Putussibau girim surat kepada saya, bahwa dia mau gambil aku harus sekolah ke Putussibau. Kata ibuku “ya udah berangkat saja malu kalau enak mau dan itu kesempatan kamu bias meraih cita-cita” sambil tersenyum. Sebelum saya berangkat ke Putussibau, saya kerja cari duet untuk ongkus ke Putussibau.
Sekitar tiga minggu saya kerja, saya lalu berangkat ke Putussibau dengan sendirian mengunakan bis dari Jongkong ke Putussibau dengan biaya waktu itu Rp 50.000 satu orang, dengan menempuh perjalanan 7 jam. Datang ke Putussibau saya bengung mau kemana cari rumah pamanku, karena saya baru pertama kali ke Putussibau. Kemudian saya tanya sama tokoh kecil disebelah terminal bis “ ass, ibu saya mau tanya tahu tidak jalan ini dan boleh tidak nolong aku cari alamat ini?”, kata ibu itu “ walikumsalam, saya tidak tahu alamat ini, ya udah saya lihat no telepon alamat itu”, ternyata alamat yang saya cari itu masih keluarga ibu itu. Karena pada waktu itu paman saya sudah pindah dari alamat yang saya tuju.
Setelah itu saya diantar kerumah tempat paman saya dengan mengunakan sepeda motor. Sudah tiga hari saya di Putussibau baru ada pembukaan sekolah SMA dan Aliyah. Saya bingung memilih dimana saya harus sekolah, kata paman saya “ kamu sekolah di Aliyah jak, karena sekolah situ banyak pelajaran tentang agama”. Saya tertarik dengan sekolah Aliyah, saya mencoba mendaftar di sekolah Aliyah melalui tes selama satu hari. Alhamdulilah, saya diterima di MAN 1 Putussibau yang ada satu-satunya di Putussibau. Pada waktu itu sekolah Aliyah masih minjam gedung MIN dan kami masuk sekitar jam 12.00 wib, setiap hari saya jalan kaki berangkat sekolah. Tak lama kemudian paman saya baru beli motor, barulah saya diantar dengan sepeda motor dan pulangnya dijemput.
Sekitar tiga bulan saya tidur ditempat paman saya, ada seorang anggota dewan Kapuas Hulu, namanya pak Zainudin, S,ag teman paman saya waktu kuliah di Pontianak, dia gajak saya jualan bakso. Saya terkejut, kata pak Zai “ Hakim, mau gak jual bakso? Hakim tingal jual jak yang masaknya ada teman Hakim”, saya menjawab “ pak, saya tidak pernah jualan bakso dan saya tidak pernah yang namanya jualan”, kata pak zai “ nanti Hakim tahu sendiri jualnya dan Hakim bisa mendapatkan uang sendiri tanpa dikirim orangtua Hakim”, saya menjawab “ya pak, saya menjoba”. Malam pertama saya jual bakso bersama teman yang namanya Udin, alhamdulila banyak laku dengan jualan keliling itulah kerja saya setiap malam dan siangnya sekolah. Saya kerja jual bakso selama hampir satu tahun dua bulan, barulah saya berhenti jual bakso. Selama saya dikelas I Aliyah, saya bisa membiayai sendiri dengan jual bakso, pada waktu itulah saya tidak pernah belajar, karena malam jual bakso, tetapi biarpun saya kurang belajar nilai saya sedang-sedang saja, tidak rendah dan tidak tinggi. Dikelas satu inilah kaka saya nikah dikampung, rasa pengen balik tapi saya tidak bisa karena pada waktu itu kami masih ulangan kenaikan kelas II.
Setelah saya kelas II Aliyah, barulah tidak jual lagi bakso karena paman saya tidak mengizinkan lagi. Setiap hari saya berangkat kesekolah mengunakan sepeda dari rumah paman kesekolah sekitar 20 menit barulah sampai. Pulang dari sekolah sekitar jam 02.00 siang, dikelas II inilah saya mulai menggikuti kegiatan ekstrakulikulir disekolah yaitu menggikuti paskibra sekolah dan masuk angkota osis, menjabat sebagai wakil osis. Tidak lama kemudian paskibra mau menyeleksi pemilihan paskibra Kabupaten dan Provinsi pada saat 17 Agustus. Saya mencoba menggikuti penyeleksiaan ini, karena diri dulu saya sangat bangga sekali kalau terpilih pengibaran bendera putih. Ada beberapa tes untuk menjadi paskibra Kabupetan dan Provinsi yaitu : tes tulisan (matimatika, Bahasa Inggris, dan materi dari paskibra), tes fisik (pus af, sket jam, lari dan PBB), dan tes mental mental. Peserta dari beberapa sekolah yang mewakili terdiri dari satu sekolah 2 0rang diutus. Sehingga semua peserta terdiri dari 40 orang yang menggikuti tes tersebut, sedangkan yang diterima sebanyak 37 0rang.
Alhamdulilah ternyata saya bisa terpilih sebagai paskibra Kabupaten dan Provinsi dengan semangat saya latihan paskibra. Pada waktu itu kami masuk kalantina selama satu bulan lebih didik sebagai paskibra yang sejati. Di paskibra saya di pasukan delapan sebagai penarik tali pada saat pengibaran sang bendera putih. Dengan menggikuti kegiatan inilah saya banyak pengalaman yang cukup membanggakan diri saya sendiri, karena banyak ilmu yang diajarkan diluar sekolah, seperti cara menjadi pemimpin, ketegasan, kedesiplinan dan lain-lain. Setelah saya selesai mengikuti paskibra, di sekolah saya ditunjukan sebagai ketua osis selama dikelas II. Pada massa saya menjadi ketua osis kegiatan yang saya jalankan seperti Paskibra sekolah, Saka Bayang kara, Saka Kencana dan Rohis.
Setelah saya kelas III, saya pindah dari rumah paman karena jauh dari rumah ke sekolah, pada waktu kami ada les malam jadi terpaksa pindah ke asrama Aliyah yang tidak jauh dari sekolah bisa jalan kaki dan barulah saya berhenti dari kegiatan dan organisasi disekolah, karena ingin prokus belajar menghadapi ujian nasional. Tetapi kegiatan masih dikontrol oleh saya, karena bapak kepala sekolah masih percaya sama saya mengurusi kegiatan tersebut. Sekitar tiga bulan mau ujian kami mengadakan les setiap hari dari jam 01.00 sampai jam 03.00 sore, selain dari pada les siang kami juga ada les tambahan yaitu les pada malam hari dari jam 07.30 sampai 09.00 malam. Dengan perjuangan kami semua ternyata tidak sisia, kami yang jurusan IPA lulus semua pada saat pengumuman hasil ujian nasional. Pada waktu itu saya begung mau kemana setelah selesai tamat dari sekolah Aliyah.




Pada sesuatu hari, ada pembukaan pelambaran menjadi anggota TNI yaitu Caba. Saya coba melambar TNI di Pontianak, yang cari hanya 100 orang anggota TNI. Pada saat itu dari utusan Kapuas Hulu hanya 6 orang yang bisa tes di Pontianak. Ketika tes di Pontianak ternyata jumlah semua yang ikut tes menjadi TNI sebanyak 800 orang, sedangkan yang cari hanya 100 orang. Tes pertama administrasi seperti surat-meyurat persyaratan yang telah ditentukan penetia penerimaan anggota TNI, dari utusan Kapuas Hulu lulus semua, setelah tes administrasi kami tes kesehatan pertama yaitu mata, bekas-bekas luka yang ada ditubuh kita, perisis, gigi, lubang hidung, lubang telingga, dan periksa kelamuan dan lubang dubur, dari 800 0rang sisa lagi hanya 670 orang yang lulus tes kesehatan pertama termasuk utusan Kapuas Hulu sisa lagi kami berempat orang duanya tidak lulus. Setelah tes kesehatan pertama kami tes jas, yaitu lari, pus ap, renang, sket jam dan PBB. Ternyata banyak gugur yaitu sebanyak 250 orang, sisi lagi 420 orang, sedangkan Kapuas Hulu sisa kami bertiga. Kemudian kami tes fisikotes, disinilah parapeserta banyak yang gugur sebanyak 20 orang sedangkan yang lulus hanya 220 orang. Alhamdulilah utusan Kapuas Hulu kami bertiga tidak ada yang gugur tes fisikotes. Setelah tes fisikotes kami diliburkan selama satu minggu, karena meyambut bulan puasa. Selama liburan bagi yang jauh dari Pontianak kami diizinkan tidur di Asrama tentara. Sedangkan sebelumnya kami tidur di Aula TNI. Setiap malam kami yang tidur di asrama TNI, kami mengadakan kegiatan yaitu kultum setiap selesai salat subuh sama salat zohor di masjid dekat kantor TNI.
Setelah kami libur satu minggu, kami melanjutkan tes yang ke 5 kali yaitu tes kesehatan kedua yaitu tes kesehatan yang didalam tubuh kita seperti paru-paru, bekas-bekas yang ada oprasi, penyakit didalam tubuh kita dan darah kita. Tes ksesehtan kedua inilah banyak gugur, tinggal kami 130 orang sedangkan anak Kapuas Hulu hanya kami berdua yang masih bertahan. Sedangkan tes selanjutnya yaitu tes wawancara seperti tanya mengapa tahu mau masuk tentara, siapa nama bapak, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibik, keponakan, dan jumlah semuanya berapa orang. Tes wawancara gugunya hanya 20 orang, sedangkan sisanya 110 orang termasuk saya dan teman saya satunya. Tes yang terakhir yaitu pentohir, yang menentukan siapa yang termasuk 10 orang yang harus digugurkan. Sudah satu bulan 10 hari saya ikut tes menjadi anggota TNI, ternyata saya gugur di tes terakhir yaitu pentohir (tes keseluruhan). Pada saat itulah saya merasa kecewa yang sangat berat sehingga pada waktu itu 2 hari saya tidak makan nasi karena masih kesal mengapa saya tidak bisa menjadi TNI.
Terpaksalah satu tahun saya harus pending dulu, dalam satu tahun saya bekerja sebagai nelayan cari ikan di sungai Kapuas ikut paman saya dan noreh getah karet sama Ibuku dan Abangku. Sehingga saya dapat menabung uang dari hasil kerja keras, uang ini rencananya untuk pakai saya beli tempel tapi, ibu dan abangku tidak mengizikan untuk tempel, karena abang saya juga mau beli tempel. ”ini saja uang ini, hakim gunakan untuk kuliah saja tahun depan,,,ye?” ujar si ibuku, kemudian abangku bilang juga ”ye, betul kata mamak (umak) uangnnya dipakai adek kuliah, kalau uangnya kurang tahu abang yang nambahkan asalkan adek kuliah”, saya menjawab ”ya, sudahlah kalau memang mamak dan abang sudah mengizinkan untuk kuliah, saya akan kuliah”. Pada waktu itu saya bengung mau kuliah dimana dan jurusaan apa? Kemudian saya menghubungi paman yang ada di Putussibau kata paman ”kuliah di STAIN jak atau di Untan, tapi yang paling bagus kuliah di STAIN karena kamu tamatan Aliyah”, lalu saya menjawab ”ya paman”. Setelah itu saya hubungi teman yang kuliah di Pontianak sama-sama satu sekolah dan satu kelas pada waktu itu, namanya si Ahmad Rizal, Rangga dan Eko. Kata mereka pembukaan di Untan dan STKIP sudah tutup, yang belum dibuka hanya di STAIN, sedangkan di STAIN pembukaannya gelombang pertama bulan 7 tanggal 24 sampai tanggal 27 bulan 7. saya langsung bilang sama mamak dan abangku, saya kuliah di STAIN, kata mereka berdua terserah saya mau kuliah dimana.
Tidak lama kemudian saya berangkat ke Pontianak sendirian mengunakan motor air dari kampung sampai ke Sintang, dengan menempuh 28 jam. Setelah itu saya nyambung lagi mengunakan bis dari Sintang ke Pontianak, dengan menempuh perjalanan selama 11 jam. Satu hari sudah di Pontianak barulah pembukaan gelombang pertama di STAIN dibuka, saya pergi ke STAIN diantar oleh kawanku yang mahasiswa STAIN juga yaitu Rizal dan Eko, untuk ikut daftar gelombang pertama. Pertama kali saya pergi kekampus bejalan kaki dari kost, setelah datang kekampus saya lihat banyak sekali orang yang daftar ke STAIN. Kemudian saya nanya sama pegawai di STAIN mau lihat brosor, langsung dari oleh pegawai yang petugas sebagai penerimaan mahasiswa baru. Sebelum daftar saya dibagikan buku brosor dari kampuas STAIN, untuk memilih jurusan yang kita ingikan yaitu jurusan Tarbiyah terbagi dua jurusan PAI dan PBA, sedangkan jurusan Dakwah terbagi dua juga yaitu jurusan Dakwah BPI dan Dakwah KPI, dan jurusan Syariah.
Setelah saya baca brosornya, langsung tetarik dengan jurusan dakwah KPI karena saya suka yang namanya nulis dan pengen jadi wartawan , makanya saya milih jurusan dakwah KPI. Pada waktu itu saya dua jurusan yaitu dakwh KPI dan PAI, karena saya pikir kalau tidak lulus di dakwah KPI, pasti lulus di PAI. Tidak lama kemudian kami tes, tes yang pertama adalah tes tulis dan kedua tes menulis shurah tanpa melihat buku, yaitu shurah Al-Fatihah dan An-Anaas, hari yang kedua kami tes wawancara cuman yang ditanya nama lengkap, mengapa masuk ke STAIN, apakah mengikuti teman saja, jurusan apa, visi dan misi masuk ke STAIN. Dengan tantangan tersebut saya bisa menghadapi dengan santai karena tes tidak susah bagi saya, Alhamdulilah setelah pengumuman ternyata saya diterima sebagai mahasiswa STAIN Pontianak jurusan dakwah KPI.
Saya sangat bangga sekali telah terpilih sebagai mahasiswa STAIN jurusan dakwah KPI, karena tidak semua orang bisa menjadi dakwah Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Tidak lama kemudian kami mengikuti OPAK dari kampus yang nama kegiatan ini dilaksanakan setiap mahasiswa yang masuk baru. Pelaksanaan OPAK ini selama 3 hari saja, yang mana kegiatan ini sangat mendidik dan mendapatkan teman yang banyak. Pada waktu itu saya kelompok 3 dan nama kelompoknya Abu Bakar Sidik dengan jumlah kelompoknya ada 45 0rang satu kelompok. Setiap hari kami harus membawa makanan sendiri yang ditentukan oleh penitia, kata penitia kalian harus hadir dikampus jam 06.00 pagi dan tidak boleh ada yang telambat, kalau ada yang telambat ada sanksinya dari kami dan pulang sekitar jam 05.00 sore. Hari pertama kami diperintahkan membawa makanan nasi lauk telur mata sapi, dan mie rebus dan air putih berukuran 250 liter, air teh susu sebanyak ukuran 125 liter dan kuenya donat 2 butik dan keroket 3 butik. Kemudian pakaian kami mengunakan kopiyah, baju putih, celana kain warna hitam, mengunakan ikat pingang warna hitam, pakai papan nama warna sesuai dengan jurusan masing-masing, karena saya jurusan dakwah mengunakan warna hijau, sepatu warna hitam, kaus warna hitam, dan rambutnya ukuran 1-1-2. hari kedua kami diperintahkan membawa nasi putih lauk mei dan telur asing, airnya seperti hari pertama dan kuenya lepat pisang sama kue agar-agar. Sedangkan hari yang ketiga, kami diperintahkan hanya beda pada hari yang kedua cuman kami membawa telur burung puyuh dan kacang hijau, setiap hari kami melaksanakan dengan baik tanpa adanya halangan apapun.
Semester pertama nilai IP saya tidak mencapai 3 hanya dapat IP 2,90, dengan nilai mata kuliah: Ilmu Dakwah (B), Ilmu Kalam (B), Akidah Akhlak (A). Peraktik Ibadah dan Qiro’ah (A), sesiologi (C)Bahasa Indonesia (A), Bahasa Inggris 1 (C), Bahasa dan mata kuliah Arab 2 (C). Setiap hari saya bejalan kaki menuju kampus dari jalan Iman Bonjol Gang Geruda II menempuh perjalanan 20 menit, biasanya berangkat dari jam 07.00 pagi, pas datang kekampus sekitar jam 07.20 menit, dengan biaya kost satu bulan 120.000 dan setiap bulan kiriman orangtua hanya 40.000 sudah paling banyak. Saya harus berjuang semester II, IPnya harus mencapai 3 atau lebih. Alhamdulilah, semester II saya tidak lagi jalan kaki karena sudah dibelikan paman dengan motor Soghun R dengan harga 4 juta 6 ratus ribu. Kegiatan yang saya ikuti di kampus hanya LPM, karena kegiatan ini sesuai dengan kejurusan dakwah KPI, yang mana kegiatan ini mendidik menajadi jurnalistik dan wartawan.





Jumat, 12 Juni 2009

Tugas BPKI

Nama : Sahirul Hakim
Nim : 10830109492
Semester : II
Mata Kuliah : BPKI
Dosen : Dr. Abdul Mukti, MA

FENOMENA KEKERASAN MASSA

Ironis kehidupan modern, adalah semakin tinggi pengetahuan, peradaban dan pengalaman hidupnya, tidak secara linear menarik perubahan perangai manusia menjadi lebih beradab pula. Logikanya semakin tinggi budaya dan peradaban, maka semakin beradablah manusia.
Karena setidaknya, manusia modern telah lebih baik dalam menggunakan akal budi dan segala potensi konstruktif yang dimilikinya, untuk berpikOr 100 atau bahkan 1000 kali sebelum melakukan sesuatu.
Namun, yang terjadi sekarang malah sebaliknya, semakin tinggi kemajuan yang dicapai oleh manusia (meminjam istilah Hikmat Budiman, saking spektakulernya keberhasilan yang dicapai dunia modern, sampai-sampai tidak pernah terbayang walau hanya dalam mimpi sekalipun pada masyarakat primitif), makin terancam kelangsungan dan kenyamanan hidup di muka bumi.
Realitas praktik kekerasan hampir setiap hari menghiasi layar kaca dan media cetak kita, tidak terkecuali di sekeliling tempat kita berdomisili. Mulai dari pemerkosaan, perampokan, perkelahian, pembunuhan, kerusuhan, dan bentuk kekerasan lainnya. Belum lagi kejahatan "kerah putih" para cerdik pandai, ilmuan, penguasa, pengusaha yang melacurkan dirinya, hampir menjadi sebuah keniscayaan sosial.
Fenomena kekerasan juga menguat dalam konteks dunia global -tentu dengan motif yang beragam, dari mulai kepentingan politik, keadilan ekonomi, dan sosial serta budaya. Biasanya, kalau sudah begini yang terlebih dulu disalahkan adalah peran lembaga pendidikan dan agama -¬meskipun pada giliran perhatian, dua bidang tersebut sering dianaktirikan-- karena dianggap tidak berhasil dalam membina dan membentuk karakter manusiawi pada ummat manusia.
Meskipun dua institusi tersebut tidak juga bisa berlepas tangan sepenuhnya, namun kurang arif kiranya, kalau kita lantas serta merta mengarahkan telunjuk kepada lembaga pendidikan atau agama sebagai yang bertanggung jawab terhadap patologi tersebut. Karena, gejala kekerasan itu hampir berlaku universal dan telah melembagakan diri menjadi sistem mandiri, yaitu budaya kekerasan.
Pertanyaan kita adalah, mengapa kita menjadi mudah dan menganggap sederhana harkat kemanusiaan, hanya oleh alasan yang belum jelas ujung pangkalnya. Padahal membunuh, membakar, memperkosa dan masih banyak sinonimnya --yang barangkali lebih barbaristik-¬merupakan terma yang agak kurang lazim, dan bahkan agak sedikit tabu pada beberapa periode sebelumnya. Namun sekarang, karena persoalan sepele saja, gara-gara masakan istri dianggap tidak enak, seorang suami tega memukul sang istri. Masih banyak lagi contoh kasus yang bisa menjadi teman sarapan pagi.
Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca sekalian, untuk mengali akar persoalan yang menyebabkan maraknya gejala kekerasan sosial tersebut. Karena luasnya cakupan dan model kekerasan, penulis sengaja membatasi diri hanya pada persoalan kekerasan massa. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini lebih bersifat teoritis, berdasarkan perspektif sosiologi konflik dan kekerasan.
Wujud Kekerasan atau Bentuk Kekerasan
Berbicara tentang kekerasan ini tidak bisa hanya dari satu sudut pandang saja, karena kekerasan itu beragam bentuk dan motifnya. Secara umum penulis membagi kekerasan menjadi 3 (tiga) kategori, berdasarkan skala besar kecilnya dan fokus kekerasan tersebut yaitu kekerasan domestik, kekerasan kriminalitas dan kekerasan massa.
Kekerasan domestik, yaitu kekerasan yang terjadi di dalam lingkup keluarga inti. Motif kekerasan biasanya didasarkan karakter pribadi anggota keluarga, baik yang dibentuk oleh watak (perlakuan kasar seorang suami terhadap istri, orang tua terhadap anak, atau kekerasan tuan rumah terhadap pembantu, dan lain-lain) dan pengaruh faktor yang sifatnya temporal. Seperti, kelelahan, stress akibat pekerjaan kantor, possesivitas, situasi ekonomi, dan sebagainya. Meskipun tidak jarang kekerasan domestik juga menjadi faktor penyebab terjadinya kriminalitas.
Kekerasan kriminal, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, dengan motif kepentingannya murni kriminal. Contohnya, pencurian, pemerkosaan dan kasus pembunuhan. Dari kedua jenis kekerasan ini tidak sampai berakibat terjadinya anomie dalam sistem normatif maupun struktural, artinya tidak sampai menimbulkan perubahan-perubahan yang signifikan dalam sistem nilai dan perubahan sosial masyarakat. Karena praktik kekerasan tersebut tidak dimaksudkan untuk target-target politik tertentu.
Sedangkan kekerasan massa, istilah ini berdasarkan istilah yang dipakai oleh Veit Michael Bader, kekerasan massa. Atau dalam istilah Steven E. Barkan dan Lynne L. Snowden° disebut collective violence atau civil vio¬lence. Kekerasan massa adalah kekerasan yang melibatkan komunitas orang atau kelompok yang lebih luas, motifnya kepentingannya relatif lebih besar (beragam) dalam bentuk crowds, mobs, fads, rumors, panic, mass hysteria, reactionic to disaster. Menurut Barkan dan Snowden, motifnya berupa kepentingan untuk mengadakan perubahan sosial, baik secara cultural maupun secara struktural. Menurut Veit Michael Bader dalam bukunya, dikatakan sebagai massa apabila sekelompok orang termobilisasi untuk melakukan tindakan anarkhis, atau keluar dari sistem etika yang normal.


Dalam tulisan ini, penulis mengkonsentrasikan pengkajian hanya pada kekerasan massa, sebagai telaah awal yang "pasti" dapat dikembangkan pada kesempatan lain.
Watak Manusia dan Pembentukan Kekerasan
Untuk dapat memahami fenomena kekerasan secara sophisticated, hal pokok yang mesti kita pahami terlebih dahulu adalah "memahami tentang sifat dasar dari manusia". Karena manusia adalah subjek sekaligus objek dalam kajian ini.
Terbatas kemampuan penulis untuk mengekplorasi secara mendalam dan luas pandangan para sosiolog tentang watak atau sifat dasar manusia, namun untuk sekedar mengambil gambaran tentang pandangan para sosiolog tentang manusia, penulis tampilkan 2 tokoh yang merepresentasikan pemikiran yang berseberangan, antara lain:
a. Pandangan Thomas Hobbes
Hobbes dapat dikategorikan sebagai representasi dari aliran pesimistis dalam melihat watak dasar manusia. la barangkali dapat disamakan dengan Sigmund Freud. Menurut Hobbes, pada hakikatnya sifat dasar manusia itu adalah jahat (egoistik). Manusia itu lebih berorientasi kepada kepentingan dirinya sendiri, bahkan untuk mencapai kepuasan clan kepentingan pribadinya (kesejahteraan dirinya), ia menjadikan manusia lain di tengah persaingan kepentingan dengan manusia lainnya sebagai lawan yang harus di makan. Hal ini termaktub dalam jargonnya yang cukup populer (homo homini lupus, manusia adalah srigala bagi manusia lainnya).
Berdasarkan pandangan tersebut, pembentukan masyarakat clan moralitas semuanya dimaksudkan untuk mencapai kepentingan tiap-tiap individu. Tidak ada masyarakat yang benar-benar ingin mehata kehidupannya secara tulus, yang ada adalah bagaimana tatanan tersebut digunakan untuk memuluskan kepentingan individu. Seperti yang dinyatakan Tom Campbell berikut:
"...lagi pula, keinginan-keinginan individu semuanya berhubungan dengan kesejahteraan sendiri. Dengan demikian moralitas direduksi ke perhitungan rasional individu atas apa yang memuaskan keinginan-keinginannya.
“... Kehidupan manusia adalah sebuah perjuangan terus menerus untuk memuaskan hasrat.
Sarana untuk menggapai segala macam harapan adalah kekuasaan, sehingga manusia itu senantiasa berusaha untuk mencapai atau memperoleh kekuasaan Sementara itu kekuasaan hanya mungkin dicapai melalui konflik. Hobbes mengemukakan ada 3 hal yang mesti dilakukakan oleh manusia untuk memperoleh kekuasaan tersebut, antara lain: Pertama, Harus berjuang untuk sumber¬sumber yang langka (persaingan). Kedua, Mereka harus mempertahankan kekuasaan yang mereka miliki, dan melakukan pertahanan terhadap orang yang ingin merampas kekuasaan yang telah dimilikinya. Ketiga, Jika mereka telah memiliki kekuasaan clan harta, maka mereka harus mencari perasaan superioritas untuk mencapai kemulian.
Bagi Tom Campbell, ketiga hal yang dikemukakan oleh Hobbes di atas merupakan faktor penyebab terjadinya perselisihan atau berada dalam keadaan perang secara terus menerus di antara ummat manusia.

b. Pandangan Karl Marx
Menurut pandangan Marx bahwa watak dasar manusia itu ada dua macam, yaitu watak manusia yang umum clan watak manusia yang telah dibentuk oleh setiap periode sejarah. Watak umum itu terbentuk dari dorongan yang berlaku hampir pada setiap manusia, yang disebut dengan dorongan yang konstan atau tetap, yang berasal dari internal manusia, yaitu dorongan untuk makan, minum, dan seksual.
Sedangkan moditikasi dari luar manusia disebut dengan dorongan yang relatif, yaitu dorongan yang berasal dari struktur sosial dan kondisi-kondisi produksi dan komunikasi tertentu.
Meskipun Marx meyakini dua jenis dorongan tersebut, namun ia lebih melihat bahwa faktor dorongan struktur empiris sangat kuat dalam pembentukan watak manusia. Perubahan yang terjadi pada struktur masyarakat (sistem sosial) akan berpengaruh terhadap pembentukan watak dari manusia, dalam hal ini manusia di determinasi oleh sejarah. Konsep perubahan dalam diri manusia ini, sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan dialektika dari Hegel.
"Manusia benar-benar berubah sepanjang sejarah; dia mengembangkan dirinya; dia mentransformasikan dirinya, dia adalah produk sejarah. Sejarah adalah perwujudan dad manusia; sejarah tidak lebih dan penciptaan diri manusia melatui proses bekerja dan produksi; keseturuhah dari apa yang disebut dengan sejarah dunia tidak lain kecuali penciptaan manusia oleh tenaga buruh, dan terciptanya aCam untuk manusia; oleh karenanya, manusia memiliki bukti yang tidak dapat disangkal atas penciptaan dirinya, atas asal usulnya sendiri.
Sebagai contoh adalah bagaimana pengaruh struktur masyarakat Kapitatisme terhadap pembentukan watak manusia, yaitu membentuk kesadaran kompetisi, penguasaan modal dan penerapan berbagai prinsip-prinsip ekonomi yang dapat mengkayakan diri sendiri.
Kalau Hobbes berpandangan bahwa manusia itu memiliki watak azali yang jahat, sementara Marx berpandangan bahwa faktor struktur masyarakatlah yang akan menentukan watak manusia. Ini tidak berarti bahwa pandangan Marx sama dengan teori Tabularasa Jhon Locke, karena Marx masih menerima pendapat bahwa manusia juga membawa watak umum secara azali.
Kedua tokoh yang kami kemukakan di atas barangkali merupakan representasi dari 2 polarisasi pemikiran tentang hakikat atau sifat dasar manusia berdasarkan perspektif sosiologis. Agak susah bagi penulis untuk menjembatani perbedaan pandangan tersebut, karena cukup paradoksal. Namun, terlepas dari perbedaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Dalam dataran sosial seorang manusia akan mengalami suatu kenisbian, yaitu manusia akan senantiasa mengalami transformasi diri seiring dengan transformasi yang terjadi di sekelilingnya. Did manusia itu adalah realitas yang terbuka, ia akan dapat dimasuki oleh beragam faham, perubahan dan nilai yang dominan di sekitarnya.
2. Dorongan kepentingan subjektif manusia itu jika tidak dikontrol oleh mekanisme kontrol yang kuat dari masyarakatnya, cenderung akan menjadi potensi destruktif.
3. Tidak ada manusia yang sungguh-sungguh jahat, karena yang jahat pun dapat menjadi baik oleh kontrol yang dibangun di antara sesama manusia (kontrak sosial pada Hobbes). Meskipun dorongan untuk tunduk kepada aturan atau kontrak sosial merupakan vested interest semata (terlepas dari sudut pandang normatif). Oleh karenanya dalam sudut pandang sosiologi, kekerasan itu sering muncul oleh desakan faktor-faktor dominan dalam masyarakat.

Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan
Berikut faktor-faktor yang mendorong perilaku kekerasan di tengah masyarakat, berdasarkan sudut pandang sosiologis.

a. Menurut Hobbes
Hobbes secara ekstrim berpandangan bahwa konflik adalah sesuatu yang inheren daiam diri setiap orang, yaitu sebagai akibat dari adanya dorongan untuk memuaskan diri sendirian. Disamping itu, dalam mencapai kepuasan diri tersebut, manusia selalu berprasangka bahwa ada orang lain yang akan merampas kepuasan tersebut dari dirinya, karena setiap manusia "gila" akan kepuasan dirinya.
Upaya yang harus ditempuh untuk mempertahankan kepuasaan diri memerlukan alat untuk mencapai tujuan tersebut, alat itu diantaranya adalah kekayaan dan kekuasaan. Oleh karenanya setiap orang berlomba-lomba saling sikut menyikut, injak menginjak, gunting-mengunting untuk merebut atau mendapatkan kekuasaan.
Jika cara tersebut tidak dicapai, maka dibuatlah kontrak sosial atau kesepakatan-kesepakatan di antara sesamanya. Namun, bukan didasarkan untuk menciptakan hormonisasi bersama, akan tetapi hanya sekedar untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan tiap-tiap individu. Segala upaya ditempuh, termasuk upaya moral.
Upaya moral bukan untuk meninggikan moralitas, akan tetapi moralitas dijadikan instrument untuk membenarkan rasionalitas individual, yaitu hasrat untuk mendapatkan kepuasan individual.9 Petaka akan muncul jika ada yang lebih berkuasa dari pada manusia lainnya, terlebih jika adalah pemimpin sebuah negara, maka ia akan menyelenggarakan pemerintahan secara otoriter.
b. Menurut Karl Marx
Meskipun dalam khazanah ilmu sosiologi Marx dikenal sebagai tokoh teori konflik. Marx merupakan pribadi yang tidak pernah lepas dari kontroversi, demikian ungkap Jurgen Habernas, meskipun teorinya banyak mendapatkan kritikan, namun dalam perbincangan tentang konflik atau kekerasan sosial, Marx tidak pernah di tinggalkan. Hal ini di karenakan teori konflik Marx merupakan grand narasi dari gejala konflik universal. Yaitu pertarungan antar kelas sosial.
Marx melihat bahwa setiap konflik lebih bersifat structural, terutama sistem kelas sosial yang di dasarkan kepada kekuasaan ekonomi. Sedikitnya ada dua hal pokok yang menjadi kritikan dari Marx yaitu adanya sekolompok orang yang menguasai alat-alat produksi secara monopoli. Kedua, perlakuan yang tidak etis para pemilik modal terhadap para pekerja, upah yang minim, tidak ada jaminan kesejahteraan dan kesehatan, sebagai akibat dari keinginan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Di sisi buruh kondisi ini di terima dengan pasrah, karena implikasi dari disverietas antara pembangunan desa dan kota, menjadi magnet bagi penduduk desa untuk berbondon-bandong pergi kekota, hanya untuk sekedar mengadu nasib. Mobilisasi penduduk desa dalam jumlah besar, berimplikasi terjadinya persoalan baru di kota. Antara lain, terciptanya pemukiman-pemukiman kumuh perkotaan tentu dengan segala derivasi masalahnya. Dan persoalan pengangguran karena terbatasnya lapangan kerja.
Meskipun perlakuan tidak etis mereka terima di pabrik-pabrik, mereka tidak bisa berbuat banyak, karena masih banyak tenaga-tenaga kerja lain yang membutuhkan pekerjaan. Sebuah pilihan yang sangat dilematis.
Marx melihat sistem sosial tersebut sangat tidak adil, satu-satunya cara keluar dari persoalan tersebut adalah dengan gara menciptakan pertentangan kelas (sentimen kelas), melalui revolusi. Dan cara yang mesti ditempuh adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif tentang kelas pada masyarakat yang ditindas. Meskipun rencana Marx itu belum sempat membuahkan hasil, karena telah terlebih dahulu terbaca oleh kaum Borjuis.
Berikut ringkasan pokok-pokok pikiran Marx yang menyebabkan terjadinya konflik sosial, antara lain:
1- Dominannya sistem ekonomi Kapitalisme yang berorientasi kepada kompetisi yang terbuka clan ticlak seimbang, telah menjustifikasi kepemilikan secara individual clan cenderung mengeksploitasi tenaga manusia untuk mencapati target percepatan produksi.
2- Sentimen kelas yang muncul pada kelas Proletariat, tidak semata dorongan subjektifitas, akan tetapi merupakan gejala yang objektif. Artinya dorongan untuk melakukan perlawanan merupakan respon terhadap sikap eksploitatif yang dilakukan oleh para kaum Borjuis. Dalam bahasa Hikmat Budiman: `...penghisapan Borjuis atas Proletariat, kapitalisme sebenarnya justru sedang menanam benih konflik struktural bagi keruntuhannya sendiri. Keruntuhan kapitalisme terjadi ketika kesadaran kelas Pro¬letariat memuncak dalam sebuah gelombang revolusi Sosialistik, perebutan kekuasaan Borjuis oleh kaum buruh".

c. Menurut Dom Helder Camara
Sebagai tambahan penulis hadirkan pendapat Dom Helder Camara, pengagas teori Spiral Kekerasan, salah satu teori kekerasan dalam perspektif struktural. Dom Helder Camara, dalam membangun kerangka teoritisnya tentang kekerasan didasarkan pada kesadaran yang terbentuk dari pengalaman empirisnya sebagai seorang agamawan yang sehari-harinya bergaul di tengah-tengah ummat. Sebagai seorang Uskup Agung, ia tidak cangung untuk terjun lansung di tengah komunitas miskin dengan menjadi tenaga sosial.
Menurut Dom Helder, penyebab utama terjadinya kekerasan adalah ketidakadilan (unjustice). Ketidakadilan tersebut akan menyebabkan terjadinya kemiskinan, sementara kemiskinan akan merusak seluruh sendi kehidupan manusia, clan satu waktu akan menjadi "bom waktu". Berikut kutipan pernyataannya secara in extenso.
"...Kemiskinan lebih dari sekedar membunuh; ia menyebabkan kerusakan fisik (coba pikirkan tentang biara), kerusakan psikologis (terdapat banyak kasus subnormalitas mental akibat kelaparan),clan kerusakan moral (mereka yang dalam situasi perbudakan, sesuatu yang tidak tampak tetapi sungguh nyata, hidup tanpa kepastian akan masa depan clan harapan sehingga jatuh ke dalam fatalisme dan merosot ke dalam mental pengemis).
Kemiskinan ini akan menciptakan kondisi sub-human pada kehidupan manusia, yaitu realitas kehidupan yang berada dibawah standar; standar kesejahteraan, standar kesehatan, dan standar pendidikan. Kondisi semacam ini akan menciptakamasa frustasi di kalangan masyarakat, yaitu rasa ketidakberdayaan, penistaan, tanpa harapan dan kepastian masa depan.
Bagi Dom, ketidakadilan ini merupakan kekerasan mendasar (basic violence) no.1, karena dari ketidakadilan ini akan mendorong kekerasan no.2, yaitu pemberontakan sebagai manifestasi dari keinginan untuk mencapai kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.
Ketika kekerasan masyarakat turun ke jalan-jalan, melakukan people power dan anarkhisme, mendorong pemerintah --yang merasa bertanggung jawab terhadap ketertiban dan keamanan-- menempuh cara-cara kekerasan (represif), melalui tangan militer untuk menghentikan anarkhisme sosial tersebut. Seperti yang terjadi di Indone¬sia dan yang apa yang terjadi di Argentina (2002). Jadilah tindakan refresif tersebut menjadi wujud kekerasan no.3, yang juga akan menimbulkan kebencian dan dendam, sebagai benih dari tindak kekerasan berikutnya.Pada akhirnya tidak akan ada penyelesaian yang jelas, karena kekerasan akan berbuah kekerasan serupa.Maka lahirlah adagium violence beget violence, kekerasan hanya akan berbuah kekerasan pula.



Penutup
Kalau Hobbes lebih melihat bahwa konflik merupakan dorongan yang inheren dalam diri setiap manusia untuk mencapai kepuasan individu, sedangkan Marx dan Dom Helder lebih melihat bahwa faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam perspektif struktural. Konflik terjadi karena persoasan ketidak adilan dan diskriminasi sosial.
Adapun perbedaan antara Marx dan Dom, kalau Marx iebih melihat kepada faktor kebijakan ekonomi sebagai sebab terjadinya konflik. Sementara Dom lebih melihat kepada faktor kebijakan pemerintah (Negara) --menyerupai analisa konflik dari Ralf Dahrendorf, yang menekankan kepada kebijakan penguasa--, dari pada faktor-faktor kepemilikan alat-alat produksi yang sifatnya orang perorangan.
Bagi Marx, manusia itu mempunyai dorongan¬dorongan internal yang harus dimiliki. Salah satu basic neednya (infrastruktur) adalah makan, minum, dan sandang. Marx berpikir linear tentang tahapan kebutuhan manusia, dari tahap infrastruktur (kebutuhan untuk survivao, struktur (kebutuhan untuk menata hidup dalam sebuah masyarakat) dan tahap suprastruktur (yaitu kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, seperti ideologi, agama, pendidikan, dan politik).
Konsekwensi dari berpikir linear tersebut adalah, manakala kebutuhan pada tahap pertama itu terancam, maka jangan harap manusia mampu menata kehidupannya secara lebih baik Bahkan, bisa jadi berakibat chaos dan anomali.
Sedangkan Dom melihat, kekerasan berawal dari kekerasan struktural dari penguasa, terutama dalam menyangkut kebijakan pembangunan, baik dalam bidang ekonomi, politik, hukum maupun budaya. Wujudnya dapat berbentuk kebijakan yang diskriminatif, yaitu memberikan peluang besar dalam penciptaan ruang disvarietas yang tajam di tengah-tengah masyarakat. Ada sekelompok orang yang mendapat fasilitas-fasilitas tertentu, sementara yang lain tidak. Sehingga ada masyarakat yang diuntungkan dengan kebijakan tersebut, sementara di sisi lain, masyarakat kebanyakan menderita kemiskinan dan keterpurukan yang menyakitkan.
Gejala ini meskipun terkesan klasik, namun prinsip¬prinsipnya hampir berlaku universal. Modusnya dapat direpresentasikan oleh kelompok ras tertentu, suku atau agama tertentu atau kelas sosial dalam masyarakat (penguasa dan pengusaha).
Disamping itu, selain yang secara eksplisit dapat kita cerna dari ketiga tokoh tersebut, ada pula beberapa sebab lain, yang mengakibatkan terjadinya kekerasan, berdasarkan tafsiran terhadap pendapat ahli di atas, diantaranya:
1. Kekerasan juga dapat disebabkan oleh berkembangnya budaya ketergantungan (seperti ketergantungan kelas buruh [Proletariat] terhadap kelas Borjuis dan pemerintah), sehingga dapat memberi ruang bagi kelas elit untuk berlaku ekspfoitatif terhadap kelas sosial lainnya.
2. Idealnya dalam sebuah masyarakat itu tidak ada kelompok yang lebih dominan dibandingkan dengan kefompok lain. Ini dikhawatirkan akan memberi ruang untuk saling menghegemoni dan mengeksploitasi satu sama lain. Meskipun penulis juga tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan Marx untuk menghilangkan sepenuh sistem kelas sosial dalam masyarakat. Keiompok dominan ini tidak mesti merupakan kelas ekonomi, namun bisa juga direpresentasikan oleh kelompok etnis, ras atau agama tertentu. Hal ini juga diingatkan oleh Bruner melaiui dominant culture hypoth¬esis."'
Sebagai upaya untuk meminimalisir tindak kekerasan massa dapat ditempuh dengah cara-cara berikut ini:
Pertama, Meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan material dan spiritual :rrasyarakat. Langkah yang semestinya ditempuh adalah pembalikan arah kebijakan pembangunan, dari pembangunan yang berorientasi kepada perlakuan diskriminatif dan "pemberhalaan materi", kepada pembangunan sumber daya manusia yang humanis, yaitu menjadikan manusia sebagai sasaran utama dari target pembangunan.
Kedua, Jalan keluar dari kondisi ketergantungan tersebut adalah kita harus memperbesar jumlah masyarakat kelas menengah, yaitu kelas yang lebih terpelajar, mapan secara ekonomi clan politik, serta bergerak pada sektor swasta. Kultur untuk menjadi pegawai negeri harus sedikit¬dikit mulai dikikis, clan kita harus mulai merambah pada sektor swasta, ini dalam rangka mengurangi ketergantungan kepada pemerintah clan sekaligus bisa menjadi kekuatan pengimbang, sehingga tidak tercipta budaya dominan.
Ketiga, Menata ulang kehidupan bernegara, baik secara struktural maupun secara fungsional. Seperti lembaga penegak hukum (mulai dari Polisinya, Lembaga Peradilannya sampai kepada Lembaga Pemasyarakatan). Kita memerlukan orang-orang yang memiliki integritas clan mentalitas yang tinggi serta profesional, sehingga dapat melakukan fungsi kontrol yang solid untuk memonitor proses penegakan hukum di tanah air. Karena faktor lemahnya supremasi hukum, membuka peluang yang besar untuk tercipta konflik clan tindak kekerasan.
Itulah barangkali beberapa solusi pemecahan masalah kekerasan, semangatnya barangkali seiring dengan etos yang diajarkan oleh agama. Hampir setiap agama "berambisi" untuk menghilangkan kemiskinan di muka bumi (meskipun itu hampir mustahil). Berbagai sistem etis dan normatif dihadirkan untuk mensupport dan menjustifikasi sikap kepedulian terhadap persoalan kemiskinan. Akhirnya usaha tersebut menjadi perennial, karena persoalan tersebut kemudian menjadi lahan untuk menguji sikap dan kesungguhan dalam beragama.








Daftar Pustaka
Eka Hendry, “Monopoli Tafsir Kebenaran, Wacana Keagamaan Kritis dan Kekerasan
Manusia,” Pers. Mulya Tama: Pontianak. Cetakan ke 1. Maret 2003.
Hikmat Budiman, “Pembunuhan yang Selalu Gagal”, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 1997.
Steven E. Berkan and Lynne. L. Snowden , “Collective Violence”. Allyu dan Bacon,
United State Of America, 2001.
Tom Campbell. “Tujuh Teori Sosial”. Reflesi Sosial dan Karisma: Togyakarta.1994.
Erich Fromm. “Konsep Manusia Menurut Marx,” Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 2001.
Saiful Arif. “Pemikiran-pemikiran Revolusioner”, Pustaka Pelajar dan Averros Press:
Yogyakarta. 2002.
Dom Helder Camera. “Spiral Kekerasan”, Lusin dan Pustaka Pelajar: Yogyakarta.2000.

Kamis, 28 Mei 2009

Puisi Cinta

Madah Cinta Sebuah Tulisan


Wahai kawan2 ku...
Dengarlah bisikan kata2 ku ini.
Tulislah wahai kawan2 ku..!
Tulislah madah cinta mu
Tulislah puisi cinta mu
Tulislah apa2 yang telintas dihati mu!
Rasakan getaran suara hati naluri mu
Biarkan ia bersuara menjerit
Biarkan seisi dunia mendengarkannya luahannya
Luahan rasa hati seorang manusia!
Wahai kawan ku...!Jangan engkau berdiam diri
Jangan engkau hanya menjenguk disana sini
Komentar sana komentar sini!
Bukankah engkau juga mempunyai rasa hati?
Sedikit naluri untuk berpuisi?
Wahai kawan ku...Percayalah bahawa ...
kita cuma insan biasa
cuba meneroka rahasia kehidupan
Sama-sama juga ada kekurangan
sama-sama ada sedikit kepahitan
Didalam merenangi lautan madah cinta ini
cuba membongkar rahasia hakikat puisi cinta!









By: Sahirul Hakim

Sabtu, 11 April 2009

Sejarah Islam Masuk di Kapuas Hulu

Pendahuluan

Peneliti dari Amerika J Davidson pernah menyampaikan ketertarikannya mengenai perkembangan Islam di Kapuas Hulu. Katanya, bagaimana di pedalaman Kapuas Hulu ini, Islam menjadi agama mayoritas? Kok, komposisinya bisa 60:40 ? Padahal Sintang, Sanggau, yang lebih dekat dekat pusat Islam, lebih dekat dengan pantai, konon lebih terbuka, penduduk yang bukan Islam jumlahnya lebih banyak.

Dua tahun sudah berlalu. Sampai hari ini pertanyaan itu sedang berusaha dijawab. Sekaligus melengkapi informasi yang sampaikan Departemen Agama Kapuas Hulu hampir 20 tahun lalu, ketika Tim Peneliti Depag yang dipimpin Moch Malik berhasil menerbitkan naskah yang diberi judul Masuk dan Berkembangnya Islam di Kapuas Hulu. Yusriadi, Zainuddin Isman, dan Hermansyah mencoba menyumbangkan jawabnya melalui tesis masing-masing.

Yusriadi (1999) menulis mengenai bahasa yang digunakan masyarakat Kapuas Hulu, Zainuddin Isman (2001) mengenai budaya masyarakat dengan pendekatan antropologinya, dan Hermansyah (2002) mengenai magi Ulu Kapuas. Selain itu, Haitami Salim, dkk (2000), menulis mengenai Islam di pedalaman Kalimantan Barat, dengan fokus keberagamaan masyarakat Embau. Januari 2003 Yusriadi dan Hermansyah menerbitkan buku Orang Embau, sebuah potret mikro masyarakat pedalaman Kalimantan, masyarakat di Kapuas Hulu. Insya Allah beberapa bulan mendatang, Hermansyah dan Yusriadi dibantu H Zahry Abdullah, kembali menyelesaikan studi singkatnya mengenai fiqh pedalaman, karya seorang ulama besar di Jongkong, Bilal Lombok, yang hidup hampir 100 tahun lalu. Semua tulisan itu langsung atau tidak langsung merupakan usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.

Apa yang dilakukan Lembaga Persaudaraan Sejati (Lepas) hari ini dengan mengumpulkan sejumlah akademisi dan pemerhati Kapuas Hulu juga merupakan bentuk perhatiannya pada kajian ini. Mudah-mudahan langkah LSM ini juga diikuti oleh kalangan yang lain yang perduli dengan sejarah dan asal usul. Sehingga antar satu usaha dengan usaha lain saling menggenapi. Gilirannya dapat membangun landasan akademik mengenai Islam di Kalbar, ataupun mengenai masyarakat pedalaman.

Tulisan sederhana ini merupakan studi lepas mengenai sejarah Islam di Kapuas Hulu. Berangkat dari kemusykilan atas sejumlah fakta dan data yang ditampilkan mengenai Islam di daerah ini.

Menyoal Mayoritas Pedalaman

Pertanyaan yang disampaikan kandidat Doktor asal Amerika itu, memang menarik dicermati. Ada beberapa alasan untuk itu.

Pertama, fakta mengenai wujudnya mayoritas muslim di pedalaman, lebih khusus lagi di sejumlah anak sungai, setahu kita kontroversi. Berbeda jauh dengan pemahaman dunia luar selama ini mengenai masyarakat Kalimantan, khususnya masyarakat pedalaman.

Meskipun pengetahuan mengenai Kalimantan masih terbatas, selama ini di dunia akademik, Kalimantan merupakan pulau orang Dayak. Atau, setidaknya ada image jika membicarakan mengenai Kalimantan –apalagi pedalaman, yang muncul dalam bayangan adalah orang Dayak . Yakni, pribumi Kalimantan yang hidup terkebelakang, beragama bukan Islam. Mungkin dengan asesoris tato, telinga panjang, telanjang dada bagi perempuan dan sejumlah image eksotik lainnya.

Karena tertarik dengan kesan eksotik itulah, sekian lama orang Dayak ini menjadi fokus perhatian dan menyita konsentrasi pembinaan landasan akademik mengenai pulau Kalimantan. Hampir-hampir masyarakat bukan Islam mengambil semua perhatian sarjana dan pakar. Collins sendiri pernah menduga ada alasan bukan akademik yang melandasi pilihan ini. (Lihat Collins 1995; Yusriadi 1999 ).

Bisa dibayangkan ketika ternyata di tengah pulau Kalimantan, di hulu Sungai Kapuas justru lebih banyak orang bukan Dayak, ilmuan harus merombak total image itu. Mereka harus mengubah ‘postulat’ dan bahkan ‘ilmu’ mereka mengenai Kalimantan.

Kedua : Bagaimana Islam tersebar begitu meluas di kawasan ini? Pertanyaan ini lebih menarik lagi. Apalagi seperti kita ketahui tidak ada Kiyai, tak ada wali yang populer dan tak ada pondok. Bagaimana Islam diterima masyarakat dan bagaimana Islam berkembang? Siapa yang terlibat dalam melakukan Islamisasi massal di sini? Faktor apa yang membuat Islam bisa diterima secara ‘kaffah’ di sini?

Masalahnya, catatan kolonial hanya menyinggung sedikit soal ini. Katanya, Jongkong mengirimkan mubalighnya ke dalam Sungai Embau untuk mengislamkan orang di sana.

“Menurut seorang petugas penjajahan, Enthoven (1903) kerajaan Jongkong di muara Sungai Embau mengutus zendekingen ‘misi’, kalau mengikut makna istilah Belanda itu, untuk menyebarkan syiar Islam di hulu sungai. Para penduduk tidak disuruh atau dipaksa tetapi diyakini melalui amanah dan amal mubaligh yang diutuskan” (Collins 2003 : xii)

Dalam komunikasi pribadi Collins mengajak berspekulasi bahwa selain karena pendekatan tersebut, Islam diterima secara massa oleh orang Embau –sebagai contohnya, karena kehadiran Belanda. Seperti diketahui missionaris yang berusaha mengagamakan masyarakat pribumi di sini memang dikaitkan dengan orang putih, kira-kira dianggap sama dengan orang Belanda. Karena itu resistensi kepada Belanda dan Kristen menyebabkan mereka menerima Islam dengan mudah .

Soalnya sekarang, kita memang memiliki informasi yang agak baik mengenai Islam di Sungai Embau sekarang, namun tidak untuk Sungai Bunut, atau Sungai Silat. Pertanyaannya kemudian, apakah polanya sama dengan apa yang terjadi di Embau?

Ketiga : Yang membuat kita penasaran juga adalah kenapa sebaran komunitas Islam dan bukan Islam seperti punya batas yang tegas. Batas itu, yakni arah selatan Sungai Kapuas sebagian anak-anak sungai didiami mayoritas (mutlak) Islam. Islam mendominasi di Sungai Embau, Bunut, merupakan dua sungai besar di Kapuas Hulu yang menganak ke selatan. Jika peta dibuat berdasarkan poros lintas selatan, membentang dari Bukit Biru, Nanga Tepuai, Riam Panjang, Boyan Tanjung, Nanga Semangut, hingga Putussibau, penduduknya Islam .

Sebaliknya, di bagian Utara, kebanyakannya beragama bukan Islam. Kawasan ini memanjang dari batas batas Kapuas Hulu, hingga berujung ke Kalimantan Timur. Sebut misalnya wilayah Badau dan Embaloh.

Secara awam kita percaya bahwa wujudnya pisahan ini terjadi tidak secara kebetulan. Tetapi ada usaha, ada upaya, dari kalangan mubaligh ratusan tahun lalu. Mesti ada penjelasan yang bisa diberikan, di kemudian hari melalui penelitian.

Islam Masuk ke Kapuas Hulu

Tulisan mengenai Islam di Kapuas Hulu masih terbatas. Jika diibaratkan gambar, maka informasi itu masih berserakan berbentuk fragmen. Di sana sedikit, di sini sedikit, terpisah-pisah sifatnya. Karena itu untuk melihat gambaran yang agak utuh maka perlu didefragmentasikan, perlu disusun oleh mereka yang ahli.

Sejauh ini ada beberapa tulisan yang menyinggung tentang Islam dan Islamisasi di Kapuas Hulu. Moch Malik dkk, mengatakan Islam kononnya masuk abad ke-6. Pada tempat lain Islam berkembang pada abad ke-18-19. Ketika itu sejumlah guru datang dari luar daerah mengajarkan Islam di pusat-pusat administrasi kerajaan: seperti Suhaid, Selimbau, Piasak, Jongkong, dan Bunut. Guru ini mendirikan madrasah mini. Peranan kerajaan kecil ini juga disoroti dalam tulisan ini.

Memang dari sekian banyak sumber yang bisa dipergunakan untuk melakukan studi sejarah, tulisan ini bisa digunakan sebagai data awal. Data-data hasil wawancara dengan tokoh agama di setiap kecamatan bisa menjadi titik tolak untuk kajian yang lebih mendalam dan akademis. Kelemahan metodologis, bisa diperbaiki melalui kajian lanjutan.

Sebenarnya, masih ada sumber lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai Islam di sini. Seperti yang dikatakan Collins (2003), van Kessel tahun 1850 merupakan petugas kolonial Belanda yang pertama menerbitkan hasil observasinya mengenai Islam di Kapuas Hulu. Bahan ini dimanfaatkan oleh penulis Belanda kemudian, seperti PJ Vath (1854), Enthoven (1903) dan Victor T. King (1993). Berdasarkan sumber ini, Islam masuk sekitar tahun 1800-an, yakni tahun-tahun sebelum observasi van Kessel dilakukan.

Di Sungai Embau misalnya, ketika catatan dibuat tahun 1850, dia mengatakan dalam tahun akhir-akhir imi Dayak di Sungai Embau telah memeluk agama Islam (Lihat Collins 2003: xii).

‘Aan de rivier de Embouw of Mouw die zich hier met de Kapoeas vereenigt, wonen vrije Dajaks ... daar zij voor eenige jaren den Islam hebben aangenomen, thans tot de Maleijers kunnen gerekend worden’.

Dalam Yusriadi (1999), Haitami, dkk (2000) serta Yusriadi dan Hermansyah (2003) disebutkan di kawasan Sungai Embau telah tersebar 200-300 tahun lalu dalam beberapa generasi. Salasilah generasi ditampilkan untuk mendapatkan kalkulasi tersebut. Sumbangan lain yang cukup berarti adalah catatan-catatan mereka mengenai dinamika keberagamaan masyarakat Islam di sini.

Zainuddin Isman (20001) juga memberikan sumbangan untuk kita memahami sejarah masyarakat Kapuas Hulu ini. Dengan pendekatan antropologi, Zainuddin menceritakan kepada kita bagaimana keadaan penduduk Islam di daerah Temuyuk, sebuah kampung di anak Sungai Bunut, puluhan kilometer ke arah utara Sungai Embau. Sekaligus tulisan ini menambah kosa pemahaman kita mengenai proses Islamisasi, seperti ketika kita melihat apa yang ditulis Hermansyah kemudian.

Hermansyah (2002) melalui penelitian Ilmu-nya menyoroti secara mikro proses Islamisasi di kawasan ini. Temuannya mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa, penyebar agama Islam dahulu di Ulu Kapuas ini telah mengawinkan budaya lokal yakni kepercayaan kepada magi dengan unsur-unsur Islam. Cara ini telah menyebabkan Islam begitu mudah diterima masyarakat. Hermansyah juga menduga Islam sufistik yang menjurus pada sinkritisme berkembang dahulu di sini.

Beberapa Agenda Penelitian

Sekali lagi, gambaran sepintas lalu mengenai Islam di Kapuas Hulu masih terbatas. Karena itu, informasi ini masih dianggap sebagai informasi mentah; masih berserakan, yang menuntut tafsiran. Diperlukan penelitian mendalam di kemudian hari.

Dengan pengetahuan terbatas dan minimnya kemampuan, setakat ini diajukan beberapa agenda yang perlu diselesaikan sehingga tersusun satu kesepahaman sejarah. Wujudnya perbedaan tahun masuknya Islam ke daerah ini bisa jadi harus ditafsirkan bahwa Islam sudah masuk pada masa tersebut, tetapi belum berkembang luas. Agama ini masih dianut beberapa orang saja. Faktor sosial menyebabkan Islam baru berkembang pada menjelang abad ke-19. Ketika Belanda datang dan mencoba mengagamakan penduduk setempat, sembari menguasai sumber alam setempat.

Bisa juga ditafsirkan, perbedaan tahun terjadi karena perbedaan lokasi. Maksudnya, masuknya Islam di Selimbau yang berada di jalur terbuka, berbeda dengan masuknya Islam di Riam Panjang misalnya, yang tertutup jauh lagi di dalam sungai Embau. Perhubungan yang sulit ketika itu menyebabkan Islam tidak bisa tersebar secara serentak. Dan inilah yang menyebabkan ada perbedaan tahun tersebut.

Bisa juga ditafisrkan bahwa salah satu sumber ada yang terkeliru sehingga muncul tafsiran yang salah. Misalnya yang satu mengaitkan dengan masuknya Islam di kawasan pesisir pantai –yang mendasarkan dugaannya dengan sejarah kawasan. Pokoknya, ada banyak kemungkinan, dan ini memerlukan diskusi terus menerus, penggalian data yang serius dan tentu saja oleh mereka yang ahli. Sebab orang yang tidak ahli akan menafsirkan berdasarkan perasaan dan kemampuan yang minimun, yang justru kadang menyesatkan.

Selain itu, ada pertanyaan lain yang mesti diselesaikan. Siapa yang melakukan Islamisasi ratusan tahun lalu itu? Siapa tokoh sentral? Memang ada beberapa nama yang disebutkan terlibat dalam usaha ini (Lihat Moch Malik dkk 1985). Di antara nama-nama itu perlu dibahas dengan mendalam. Kajian biografi merupakan jawaban atas data ini.

Mengenai metode sedikit banyak kita sudah mendapat gambarannya. Meskipun tidak dikenal dengan institusi pondok –Pondok Pesantren Pertama Kapuas Hulu di Nanga Tepuai tahun 1990-an, namun kegiatan pengembangan Islam bisa dilakukan. Tetapi menarik mengimbas kembali apa yang disampaikan penulis Belanda yang mengenal istilah Islam transisi. Maksudnya, adalah ada sekelompok masyarakat yang memeluk Islam tetapi mereka belum melaksanakan ajaran Islam dengan baik. Setidaknya dalam catatan tersebut, disebutkan penduduk Islam yang masih minum tuak, memelihara anjing dan makan babi (Lihat Yusriadi 2002).

Apa yang disinggung dalam Yusriadi (2002) mungkin juga merupakan jawaban sementara atas proses ini. Dengan mengambil cerita larangan makan babi dikaitkan dengan kisah Saydina Ali dan isterinya. Walaupun dalam sejarah Islam tidak ditemukan cerita ini, namun mubaligh memanfaatkannya untuk memberi penjelasan singkat larangan makan babi berdasarkan logika tradisional, logika masyarakat setempat kita itu.

Atau istilah Islam transisi yang disinggung penulis Belanda merupakan bentuk strategi Islamisasi yang dilakukan oleh mubaligh. Maksudnya, biarlah masyarakat lokal masih memelihara anjing, makan babi dan minum tuak, biarlah mereka mengikuti kebiasaan mereka, yang penting konversi agama dengan starting pointnya pada syahadat (kesaksian) sudah dilakukan. Dengan begitu, misionaris tidak bisa apa-apa. Entahlah.

Penutup

Kenyataannya, data awal mengenai Kapuas Hulu memang sangat menarik. Profesor Linguistik Sejarah asal Amerika James T Collins , membawa kita pada beberapa persoalan data sejarah masyarakat Embau khususnya, Kapuas Hulu umumnya.

Misalnya, bahasa apa yang dipakai masyarakat ini sebelum memereka menukar agama secara ini? Apakah bahasa mereka berubah? Apakah cara hidup mereka berubah –sejauh mana perubahan itu?, sebelum dan setelah masuk Islam ?

Untuk mencari jawaban tentu tidak mudah. Karena itu kita berharap ada usaha penelitian secara serius dilaksanakan. Tidak bisa dilakukan dengan sepintas lalu seperti penelitian yang dilaksanakan Moch Malik dan kawan-kawan. Begitupun penelitian yang dilakukan Yusriadi, Zainuddin Isman dan Hermansyah.

Meskipun sumbangan dari berbagai sudut diperlukan, apa yang paling mendasar adalah, kita perlukan sejarawan. Sedangkan mereka yang melakukan usaha pencatatan sejarah sekarang ini hanya guru agama, peminat Linguistik, Tasauf, Antropologi. Mereka ini secara kebetulan tertarik untuk sepintas lalu menyoroti sejarah ini.. Kita mesti melahirkan seorang sarjana sejarah sehingga bisa mengupas fenomena ini secara intensif.

Satu hal yang penting dicamkan, bidang kajian sejarah bukan hal yang remeh temeh. Kata orang bijak : Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Kita ingin jadi bangsa yang bijak, yang menghargai sejarah lokal kita. Tetapi malangnya, kita ‘belum punya’ sejarah. Kita justru masih merasa belum ada apa-apanya. Masih terbuai oleh sejarah besar kawasan lain. Alahai.**

Bibliografi

Collins, J. T. 1995. Kalimantan Barat Sebagai Titik Tolak Pengkajian Sejarah Bahasa Melayu. Kerta Kerja Dialog Borneo-Kalimantan V, Pontianak.

Collins, J.T. 2003. Alam Melayu dan Masyarakat Embau. Dalam Yusriadi dan Hermansyah 2003. Orang Embau: Potet Masyarakat Pribumi Kalimantan. Pontianak: STAIN Press – Adi Karya IKAPI – The Ford Foundation.

Haitami Salim, dkk. 2000. Islam di Pedalaman Kalimantan Barat, Studi Kasus atas Keberagamaan Masyarakat Embau. Pontianak: STAIN.

Hermansyah. 2001. Magi Ulu Kapuas. Tesis MA IAIN Sunan Ampel, Semarang.

Moch Malik, dkk. 1985. Masuk dan Berkembangnya Islam di Kapuas Hulu. Naskah.

Yusriadi. 1998. Tuhfat Al-Nafis : Merangka Episode Sejarah Kalbar. Makalah disampaikan dalam Bengkel Karya Agung Tuhfat Al-Nafis. ATMA.

Yusriadi. 1999. Dialek Melayu Ulu Kapuas. Tesis MA Universiti Kebangsaan Malaysia.

Yusriadi. 2000. Islamisasi di Pedalaman Kalbar, Perspektif Linguistik dan Tradisi Lisan. Khatulistiwa 1: 12-32.

Yusriadi. 2002. Islam Transisi di Kapuas Hulu. Naskah.

Yusriadi. dan Hermansyah. 2003. Orang Embau: Potet Masyarakat Pribumi Kalimantan. Pontianak: STAIN Press – Adi Karya IKAPI – The Ford Foundation.

Zainuddin Isman. 2001. Orang Melayu di Kalimantan Barat, Kajian Perubahan Budaya pada Komuniti Pesisir dan Komuniti Pedalaman. Tesis MA Universiti Kebangsaan Malaysia.

Selasa, 07 April 2009

pengakuan pembunuhan sahrul dikapuas hulu

Jumat, 3 November 2000
Pengakuan Pembunuh Sahrul di Kapuas Hulu

Pontianak- Akhirnya, pelaku pembunuh Sahrul bin Arun (30 tahun) di Desa Nibung, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu berhasil ditangkap aparat Polres Kapuas Hulu, Rabu (1/11) siang di Desa Lubuk Antu, Hulu Gurung, Kapuas Hulu. Tersangka, Dar mengaku membunuh Sahrul yang notebene kawannya itu sendiri dikarenakan tergiur dengan tape yang hendak dijual korban. Berpura-pura hendak membeli, tak tahunya justru di atas speed boot, korban dihabisi secara biadab. Pengakuan tersangka bahwa korban berniat menjual satu unit tape kepadanya. Oleh Dar, ia menyetujui untuk membeli tape itu seharga Rp 800 ribu. Namun karena uangnya masih ada di rumah, maka diajaknya korban untuk mengambil uang pembayaran tape di rumahnya. Perjalanan ke rumah ditempuh dengan menggunakan speed boot, yang didalamnya lengkap berisikan karung bekas ikan asin, rotan dan parang. Di tengah perjalanan, tersangka yang memang sudah berniat jahat sejak semula, lalu menghabisi nyawa kawannya itu secara biadab. Korban yang tinggal di Desa Nanga Empangau, Kecamatan Bunut Hilir itu dibacok dari belakang sebanyak dua kali dan mengena ke bagian kepalanya, ia pun tewas seketika. Untuk menghilangkan jejak, pakaian korban dibuka dan perutnya dibelah, dengan maksud supaya mayat bisa tenggelam ke dasar sungai. Namun ternyata setelah diceburkan ke sungai, tubuh mayat itu tidak tenggelam-tenggelam juga, sehingga leher korban diikat dengan rotan dan diganduli karung berisikan pasir. Tetapi upayanya itupun tak sesuai keinginan, karena cuma tubuh bagian bawah korban saja yang tenggelam, sedangkan wajahnya masih mengapung di permukaan. Penangkapan tersangka pembunuh Sahrul bernama Dar dibenarkan oleh Kapolres Kapuas Hulu, Superintendent Drs Bambang Imam Supeno melalui Kadispen Polda Kalbar, Assisten Superintendent Drs Suhadi SW. Hingga kini, pihak kepolisian masih mengadakan pengusutan intensif terhadap tersangka Dar.(mel)

< Pontianak- Akhirnya, pelaku pembunuh Sahrul bin Arun (30 tahun) di Desa Nibung, Kecamatan Selimbau, Kapuas Hulu berhasil ditangkap aparat Polres Kapuas Hulu, Rabu (1/11) siang di Desa Lubuk Antu, Hulu Gurung, Kapuas Hulu. Tersangka, Dar mengaku membunuh Sahrul yang notebene kawannya itu sendiri dikarenakan tergiur dengan tape yang hendak dijual korban. Berpura-pura hendak membeli, tak tahunya justru di atas speed boot, korban dihabisi secara biadab. Pengakuan tersangka bahwa korban berniat menjual satu unit tape kepadanya. Oleh Dar, ia menyetujui untuk membeli tape itu seharga Rp 800 ribu. Namun karena uangnya masih ada di rumah, maka diajaknya korban untuk mengambil uang pembayaran tape di rumahnya. Perjalanan ke rumah ditempuh dengan menggunakan speed boot, yang didalamnya lengkap berisikan karung bekas ikan asin, rotan dan parang. Di tengah perjalanan, tersangka yang memang sudah berniat jahat sejak semula, lalu menghabisi nyawa kawannya itu secara biadab. Korban yang tinggal di Desa Nanga Empangau, Kecamatan Bunut Hilir itu dibacok dari belakang sebanyak dua kali dan mengena ke bagian kepalanya, ia pun tewas seketika. Untuk menghilangkan jejak, pakaian korban dibuka dan perutnya dibelah, dengan maksud supaya mayat bisa tenggelam ke dasar sungai. Namun ternyata setelah diceburkan ke sungai, tubuh mayat itu tidak tenggelam-tenggelam juga, sehingga leher korban diikat dengan rotan dan diganduli karung berisikan pasir. Tetapi upayanya itupun tak sesuai keinginan, karena cuma tubuh bagian bawah korban saja yang tenggelam, sedangkan wajahnya masih mengapung di permukaan. Penangkapan tersangka pembunuh Sahrul bernama Dar dibenarkan oleh Kapolres Kapuas Hulu, Superintendent Drs Bambang Imam Supeno melalui Kadispen Polda Kalbar, Assisten Superintendent Drs Suhadi SW. Hingga kini, pihak kepolisian masih mengadakan pengusutan intensif terhadap tersangka Dar.(mel)

desa nanga empangau

Ditulis oleh Sahirul Hakim Senin, 12 Januari 2009 PDF Cetak E-mail sahirulhakim6@gmail.com
Desa Nanga Empangau, Desa Wisata Danau Lindung

Desa Nanga Empangau terletak di wilayah kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu. Tepatnya di pinggir sungai Kapuas. Dari Pontianak lebih kurang 600 kilometer.
Jumlah penduduk Nanga Empangau sebanyak 1.747 orang, terdiri dari beberapa orang yaitu anak-anak, remaja, pemuda, dan para orangtua.
Mata pencaharian pokok masyarakat di Nanga Empangau adalah menoreh karet. Semua keluarga memiliki kebun getah. Rata-rata panen satu pagi, 7 kilo. Satu bulan mereka bisa mendapatkan lebih kurang 100 kilo. Harga getah per kilo sekarang ini Rp 3000. Sebelumnya, beberapa bulan lalu, harga per kilo bisa mencapai Rp9000.
Tetapi, hasil yang mereka peroleh dari menoreh karet tidak bisa dipastikan. Perolehannya sangat tergantung cuaca. Jika musim hujan, pekerjaan menoreh tidak bisa dilakukan.
Selain menoreh mereka juga berladang dan nelayan. Pekerjaan ini mereka lakukan kadang kala setelah pulang dari menoreh. Mereka menanam padi di daratan di sekitar kampung.
Masyarakat yang menjadi nelayan menangkap ikan di danau. Mereka boleh menangkap ikan di Danau Lindung. Ada batas-batas yang boleh dan ada yang tidak boleh. Pukat-pukat yang mereka pakai juga dibatasi 4 inci saja. Dengan begitu ikan-ikan kecil tidak terperangkap.
Masyarakat juga menangkap ikan di Danau Penganyuh. Danau ini terletak di arah utara dari Danau Lindung. Jaraknya diperkirakan 10 menit menggunakan speed 2 PK. Kalau menggunakan sampan kayuh, perjalanan lebih kurang 30 menit.
Danau Aduk juga tempat menangkap ikan. Jarak dari kampung sekitar 15 menit dengan speed 2 PK. Kalau menggunakan sampan, lebih kurang 60 menit. Letaknya di arah selatan kampung.
Rata-rata hasil tangkapan nelayan tidak banyak. Dari menangkap ikan ini lebih kurang 5 kg. Harga ikan bau’, Rp2000 per kilo. Harga ikan tuman, Rp 8000. Tetapi tangkapan bisa lebih banyak pada musim air pasang. Pada musim bau' penduduk bisa mendapatkan ikan hingga ratusan kilo. Biasanya musim ini bulan Desember.
Perolehan ikan juga bisa lebih banyak pada musim kering. Saat ikan terperangkap di danau. Ini yang memudahkan masyarakat menangkap ikan.
Potensi ekonomi ini dapat masyarakat menikmati hidup yang lebih layak.
Masyarakat bisa membeli peralatan elektronik. Misalnya punya TV, radio, komputer, tape recorder dan HP.
Masyarakat juga memiliki motor air, dan speed. Inilah kendaraan yang digunakan oleh masyarakat Nanga Empangau. Tidak ada jalan darat di sini, karena mereka menggunakan jembatan atau gertak (kerarin).
Makanan khas di Nanga Empangau –seperti di daerah Kapuas Hulu lainnya adalah kerupuk basah (temet), kerupuk kering (kerupuk rangkai), dan ikan asin (balur).
Kemajuan lain yang perlu disebutkan di sini adalah dalam bidang olahraga. Bidang ini sangat menonjol. Mereka jago bermain sepak bola. Karena sering mendapat prestasi yang sangat gemilang.
Dalam bidang agama, penduduk di sini beragama Islam. Ada satu masjid, yaitu masjid Nurul Yaqin dan surau ada tiga. Nanga Empangau juga cukup menonjol dalam lomba bidang ini. Banyak pemuda dan pemudi yang telah ikut MTQ tingkat kecamatan dan kabupaten.
Di dalam bidang pendidikan, pendidikan di Nanga Empangau cukup maju. Ada taman kanak-kanak (TK). Ada Sekolah Dasar Negeri (SDN), dan ada Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN).
Cukup banyak putra Nanga Empangau yang menjadi orang sukses. Ada yang jadi polisi, perawat, guru, pegawai KUA. Banyak juga yang masih kuliah.
Desa Nanga Empangau ini banyak sekali peraturan-peraturan dan adat istiadat yang diterapkan di masyarakat setempat. Penerapan ini juga yang membuat masyarakat dapat menjaga ikan di Danau Lindung.
Misalnya, orang yang menangkap ikan melewati batas yang ditentukan, bisa dikenakan denda. Selain membayar dengan sejumlah uang, ada denda juga berat. Denda berat adalah orang yang melanggar akan dikucilkan dari masyarakat. Pengucilan ini membuat pelanggar terisolasi. Isolasi sosial ini yang membuat masyarakat sangat patuh pada hukum adat ini.
Bila ingin berkunjung ke desa ini, sudah ada pondok wisata dibangun oleh Kantor Perikanan di Danau Lindung.

Sahirul Hakim
Mahasiswa, Asal Nanga Empangau