DESKRIPSI DIRI
OLEH : SAHIRUL HAKIM
OLEH : SAHIRUL HAKIM
Saya bernama Sahirul hakim, lahir didesa Nanga Empangau kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu pada tanggal 2 Agustus 1987. Saya adalah anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara, nama ibu saya adalah Daemah. Pendididkan ibu saya hanya sampai tamat SD di Nanga Temenang Kecamatan Embau, sedangkan bapak saya bernama Saleh dan pendidikanya sama seperti ibu saya yaitu hanya sampai tamat SD di Nanga Empangau. Dari tiga bersaudara, saya mempunyai satu orang kakak dan satu orang abang, kakak saya bernama Esah dan abang saya bernama Ahmad S, adapun pendidikan mereka berdua hanya sampai tamatan SD.
Setelah saya memasuki usia enam tahun, barulah bapak mendaftarkan saya kesekolah SD dikampung. Hari pertama kami masuk sekolah, saya sangat cepat berangkat kesekolah karena kata teman saya kalau tidak cepat berangkat kesekolah takutnya tidak akan dapat kursi lagi. Waktu itu kami berangkat sekitar jam enam pagi, kalau bahasa saya dikampung masih “lagik kebusau”, yang artinya hampir-hampir cahaya pajar kelihatan, karena semangatnya untuk berangkat sekolah sehingga berangkatnya cepat.
Sekitar tiga bulan lamanya menjalani pendididkan kelas satu SD kami langsung ulangan selama tiga hari. Selesai ulangan sekitar satu minggu lamanya kami dibagikan buku raport, ternyata nilai saya sangat jelek dan tidak mendapatkan peringkat dikelas. Sekitar satu tahun menjalani pendididkan kelas satu SD, kemudian kami menjalani ulangan kenaikan kelas dua SD, dan ternyata saya tidak naik kekelas dua. Biarpun tidak naik kekelas dua saya tetap bersemangat dan tidak gengsi, karena saya berfikir itu semua adalah tantangan dan cobaan. Mengapa saya tidak naik kelas karena saya jarang masuk dan kurang belajar, selain itu kurangnya motivasi dari orang tua untuk belajar. Setelah kami dibagikan buku raport, kami libur selama satu bulan lamanya. Biasanya kalau anak-anak yang lain saat liburan mereka hanya bermain- main dirumah. Sedangkan saya dibawa bapak kerja didanau untuk mencari ikan dan noreh karet sampai-sampai kami harus menginap didanau selama liburan.
Kata orang anak bungsu itu dimanja dan disayang oleh orangtua, akan tetapi saya bukanlah anak-anak yang mereka pikirkan itu. Akan tetapi malahan saya yang paling sering ikut orangtua bekerja, dikarenakan abang saya sering sakit-sakitan dan kakak saya yang cewek hanya membantu ibu bekerja dirumah.
Liburan telah berlalu, tibalah saatnya tahun ajaran baru untuk masuk sekolah. Dikarenakan saya masih kelas satu dan tidak naik kelas maka saya masuk bersama dengan adik-adik kelas satu SD. Untunglah pada saat itu tubuh saya tidak terlalu besar dibandingkan dengan adik-adik kelas yang baru, dikarenakan saat itu tubuh saya kurus.Masa pendidikan kelas satu tidak terasa sudah mau ulangan, sekitar dua minggu menjelang ulangan para guru baru mengumumkannya. Dikarenakan mau menjelang ulangan saya mulai giat belajar untuk menghadapi ulangan tersebut, alhamdulillah dengan kesadaran saya bisa mendapatkan nilai cukup bagus dibandingkan tahun yang lalu. Kemudian pertengahan ulangan sudah kami laksanakan, beberapa bulan kemudian kami ulangan kenaikan kelas. Dengan lebih semangat lagi saya belajar untuk bisa naik kekelas dua, dikarenakan saya sudah dua tahun duduk dikelas satu SD.
Dengan segenap usaha dan motivasi yang kuat untuk naik kelas, ternyata akhirnya saya bisa naik kekelas dua dengan nilai yang cukup bagus dan memuaskan. Tiba saatnya menjelang hari minggu dan liburan sekolah, jadi saat liburan inilah digunakan untuk membantu orangtua yaitu membantu bapak saya bekerja didanau dan bukan digunakan untuk bermain-main dirumah seperti teman-teman saya biasanya. Dikarenakan liburan yang cukup lama, jadi saya gunakan untuk tetap membantu bapak bekerja. Bapak dan ibu saya sangat sayang kepada anak-anaknya, sehingga apa yang kami minta pasti akan dikasihkan. Akan tetapi kami sebagai anak-anaknya tidak pernah meminta apapun dari orangtua kami, dikarenakan keluarga kami bukanlah keluarga yang mampu.
Selama saya menjalani pendididkan dibangku kelas dua SD, bapak saya tiba-tiba jatuh sakit selama hamper satu tahun sehingga akhirnya beliau meninggal dunia. Pada saat itu saya berusia 8 tahun, abang saya 10 tahun dan kakak saya 12 tahun. Ibu saya adalah ibu yang sangat sayang dengan anak-anaknya dan juga kepada suaminya, beliau yang selalu merawat bapak pada saat sakit baik waktu dirumah sakit maupun dirumah sendiri. Segenap usaha ibu lakukan demi kesembuhan bapak, sampai-sampai semua harta yang kami miliki habis kami jual demi kesembuhan bapak. Akan tetapi semua usaha dan pengobanan itu habis terbuang sia-sia, mungkin inilah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada saat bapak saya jatuh sakit dan meninggal dunia, kakak saya sudah tamat SD, abang saya baru kelas lima SD, dan saya sendiri baru naik kelas tiga SD.
Dalam keluarga kami sudah tidak lengkap lagi, dikarenakan bapak saya sudah meniggal dunia dan tinggallah ibuku yang harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarga kami dengan dibantu kakakku yang mana seharusnya kakakku melanjutkan pendidikannya ditingkat SMP, akan tetapi apalah daya hidup yang susah menimpa keluarga kami dan terpaksa kakakku harus bekerja keras membantu ibuku demi menghidupi keluarga kami.
Setelah saya naik kelas tiga, dengan nilai yang cukup membanggakan dehingga saya mendapat peringkat kelima dari 27 siswa. Setiap hari senin dan kamis kami diberikan makanan tambahan dari sekolah setiap pagi dan siang hari, adapun makanan yang diberi itu perupa bubur nasi dan bubur kacang hijau. Selama kelas tiga sampai kelas enam SD makanan itu selalu kami dapatkan, sehingga kami tidak merasakan kelaparan. Pada saat kelas tiga nilai saya sangat buruk sekali, dikarenakan waktu itu saya sering sakit dan jarang masuk. Setelah empat bulan mau menjelang ulangan barulah saya tidak sakit lagi dan saya bisa masuk kelas lagi sehingga alhamdulillah saya naik juga kekelas empat.
Tanpa terasa saya sudah duduk dibangku kelas empat SD, selama menjalani dibangku kelas empat SD usia saya sekitar 9 tahun. Masa inilah kenakalan saya sangat menonjol sekali sehingga sering mendapat hukuman, kenakalannya seperti terlambat sekolah dan pulang sebelum tiba waktunya. Biarpun sering mendapatkan hukuman, tetapi nilai saya tidak kalah dengan teman yang lain. Ulangan kenaikan kelas lima SD telah tiba, saya pun mengurangi kenakalan saya dan mulai belajar dengan rajin. Kemudian tibalah ulangan kenaikan kelas lima yang sudah ditunggu saat ini, alhamdulillah dengan segenap usaha yang ada saya naik kekelas lima meskipun hasilnya tidak memuaskan. Setiap liburan kenaikan kelas, saya selalu membantu ibu dan kakakku bekerja. Kami berangkat kerja dari jam 04.00 subuh dan pulangnya sekitar jam 03.00 sore dari kebun dan inilah pekerjaan rutin yang selalu kami lakukan setiap hari.
Sudah tidak terasa saya sudah kelas 5 SD, sebentar lagi mau kelas 6 SD. Yang mana dulu saya nakal, tetapi pada saat saya kelas 5 SD saya tidak nakal lagi. Pada saat kelas 5 SD inilah saya hampir putus sekolah karena kondisi keluarga kami pada saat itu sangat menyedihkan seperti bangunan rumah yang kondisinya sangat parah misalnya atap rumahnya sudah bocor dan lantai dapur sudah mau roboh. Dengan kondisi rumah kami yang sangat menyedihkan itu, saya pikir saya harus berhenti sekolah untuk membantu ibu saya memperbaiki rumah, ternyata abang saya tidak mengijinkan untuk berhenti sekolah. pada saat itu abangku sudah tamat SD sekitar dua tahun yang lalu, setelah dia tamat sekolah langsung merantau di kampung asal kelahiran ibu saya yaitu di Nanga Temenang, bekerja sebagai noreh karet dan mencari emas. Dengan kerja kerasnya sehingga dia bisa membantu ibu memperbaiki rumah.
Setelah beberapa lama menjalani pendidikan dikelas 5, tibalah pada saatnya kami ulangan kenaikan kelas 6. Untuk menghadapi ulangan tersebut dengan semangat saya belajar agar bisa naik kelas 6 dan mendapakan nilai yang baik. Ternyata usaha jerih payahnya saya belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus dan bisa naik kelas 6 tercapai, pada itulah saya mendapatkan rengking ke 5 dari 23 siswa.
Dengan masuk ajaran baru sekarang saya sudah duduk dibangku kelas 6 SD, yang bentar lagi mau menghadapi ujian nasional. Setiap hari kami yang anak kelas 6 mengadakan pengajaran tambahan yaitu les dari sekolah dari jam 02.00 sore sampai 04.00 sore wib. Kami harus bersaing dengan anak-anak Kecamatan, karena pada waktu itu kami ujian tidak dikampung harus di Kecamatan Bunut Hilir. Sekitar satu minggu ujian tersebut mau dilaksanakan, kami sudah siap-siap untuk berangkat ke Kecamatan Bunut Hilir untuk menggikuti ujian nasional, dengan menggunakan motor air menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari kampung ke Kecamatan, kami berangkat dari jam 09.00 pagi sampai jam 03.00 sore baru kami datang.
Hari pertama kami datang ke Kecamatan, langsung dibagikan kartu perserta ujian nasional. Malam hari pertama kami sudah di Kecamatan, tidak ada yang berani keluar malam karena besoknya kami udah mau ujian dan seterusnya sampai kami selasai ujian nasional. Ujiannya sudah selesai barulah perasaan kami tenang, kami diizinkan untuk bisa keluar malam sampai jam 10, karena kami mau belanja oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Setelah kami pulang dari Kecamatan Bunut Hilir, untuk mengikuti ujian Nasional tidak lama sekitar satu minggu kami langsung perpisahan dengan kawan-kawan , adek-adek kelas dan para dewan guru. Alhamdulilah, kami semua lulus semua di bangku SD selama 6 tahun.
Sekitar satu minggu kemudian saya dan abangku berangkat berkerja di kampung nenekku yaitu Desa Nanga Temenang, tempat lahirnya ibuku. Sekitar hampir satu bulan kami berdua kerja sebagai noreh karet dan gejek cari emas disungai Embau. Karena kalau kami kerja dikampung semua, waktu itu kebun karetnya belum besar dan sedikit untuk bisa ditorehkan, terpaksa kami dua abangku harus kerja diluar kampung. Tidak lama kemudian datanglah surat dari ibuku, sedangkan isi dalam suratnya cuman bilang “hakim gelanjut ndak ke SMP, kalau mau gelanjut pulang karena pendaftarannya sudah dibuka”. “ ya udah, adek kamu harus sekolah ye, biarkan abang yang kerja karena dalam keluarga kita belum ada tamat SMP. Adak harus sekolah jangan seperti abang? Abang sanggup membiayai adek sekolah kemana”. Ujar abangku (Ahmad. S. nama pangilan Engah ujang), dengan wajah yang semangat.
Setelah saya mendengar dari kata-kata Engahku tadi, saya teharu dan jiwa semangat untuk sekolah bangkit lagi. Hari selanjutnya saya lansung pulang kekampung halamanku dengan semangat mengejar pendidikan ke tingkat SMP. Hari selanjtunya saya dan ibuku langsung pergi ketempat pendaftaran tersebut. Kata ibuku “ uju, sekolah yang benar-benar kejarlah cita-cita kamu, jagan seprti ibu yang bisa membaca huruf Arab saja. Ibu harap uju, menjadi pemimpin keluarga kita”, saya menjawab dari kata-kata ibuku “ Insallah bu, aku akan ingat selalu kata-kata dari ibu dan akan aku perjuangkan sampai cita-citaku dapat”.
Hari pertama kami masuk SMP, aku sangat gembira sekali bisa sekolah seperti teman-teman lainnya dan bisa kenalan dengan teman-teman yang dari luar kampung seperti dari desa Teluk Aur dan Desa Ujung Said mereka sekolah SMP nya ditempat kampung saya. Biasa pertama kali masuknya berkenalan guru dan lingkungan sekolah dan sekitarnya, juga teman-teman. Setiap pagi-pagi, sebelum saya berangkat sekolah saya masak nasi dan nyapu ruangan setelah itu barulah saya mandi, sarapan pagi dan barulah berangkat sekolah, kegiatan seperti ini saya lakukan sampai selesai sekolah SMP. Mengapa saya setiap pagi-pagi harus masak? Karena ibuku dan kakaku tidak sempat masak mereka berangkat kerja noreh karet selesai sahlat subuh pulang tidak pulang kerumah sekitar jam 10.00 pagi, itu istirahat sebentar mereka berangkat lagi ke ladang, pulangnya sekitar jam 04.00 sore. Dengan itulah saya masak dengan ibuku dan kakaku jangan sampai mereka pulang kerumah masak lagi dan kerja lagi. Jadi mereka berdua tinggal makan datang kerumah, bukan hanya pagi-pagi tapi sore hari sekitar jam 03.00. saya juga masak dan beres-beres rumah dan gajarin anak-anak TPA dirumah setiap sore hari, dengan jumlah muridnya sekitar 20 orang.
Gedung SMP 2 Bunut Hilir di kampung saya tahun 2001 baru menjadi Negeri, pas kami masuk ajaran baru dan bangunan gedungnya pun baru. Sebelumnya kakak kelas kami dulu masih meminjam gedung SD, dan mereka sekolah siang sekitar jam 12.00 baru masuk. Sedangkan guru-guru SMP pada waktu itu sangat terbatas sehinga kadang-kadang mereka tidak belajar. Alhamdulilah, dengan sekolah SMP kami yang sudah Negeri dan gedung pun baru, serta guru pengajarnya cukup banyak dan mereka rata-rata tamatan S1.
Sudah enam bulan saya duduk di bangku SMP, barulah yang pertama kali diri saya dan teman-teman ikut ulangan semester di SMP. Pada waktu itu saya sangat rajin belajar, sehingga diri saya mendapatkan peringkat ke 5 dari 30 orang murid. Setelah abang saya mendengar bahwa saya mendapatakan peringkat ke 5, dia memberi saya sepatu dan tas untuk sekolah. Karena sudah enam bulan saya sekolah tidak mengunakan tas. Alhamdulilah, dengan pemberian abangku tadi saya sekolah bisa mengunakan tas seperti teman-teman yang lainnya. Setelah ulangan semester kami libur hanya dua minggu, liburan dua minggu itu saya gunakan untuk membantu ibu dan kakak saya kerja di kebun. Itulah kerja saya pada saat liburan sekolah.
Sudah dua minggu kami libur, barulah kami masuk sekolah seperti biasanya. Pada waktu itu saya dan teman-teman membaca madeng di sekolah, ada informasi tentang kegiatan ekstrakulikuler dari sekolah yaitu pramuka. Yang mana kegiatan ini akan dilaksanakan 3 hari lagi pas hari minggu. Semua dari kelas 1 sampai kelas 2 wajib ikut semua kegiatan pramuka tersebut. Karena baru pertama kali yang namanya ikut pramuka, jadi sangat-sangat seru kegiatanya, sehingga saya dan teman-teman sangat suka sekali yang namanya kegiatan pramuka.
Sekitar dua bulan mau ujian kenaikan kelas, sekolah kami di undang ikut POR PELAJAR tingkat Kecamatan yaitu di Kecamatan Suhaid. Yang mana kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap dua tahun sekali, yang boleh ikut tingakat SMP dan MTS. Kegiatanya seperti main bola kaki dan main bola voli prempuan. Dengan semangat siswa-siswi SMP Bunut Hilir untuk ikut kegiatan POR tersebut. Waktu itu saya mengikuti permainan bola kaki, posisi saya sebagai pemaian alas sebelah kiri.
Alhamdulilah, dengan pertahanan permainan bola kaki dan permainan bola voli kami mendapakan juara 3 bagi pemain bola kaki dan pemain bola voli mendapatkan juara 3, yang mana sekolah kami baru pertama kali mengikuti POR PELAJAR tersebut. Sehingga kami bisa membawa nama baik sekolah kami dengan pertasi yang baik.
Setelah kami pulang diri POR tersebut di Kecamatan Suhaid, satu bulan kemudian kami langsung ulangan kenaikan kelas. Ulangan kenaikan kelas baru pertama kali mengikutinya di SMP. Dengan tidak percaya diri saya mengisi ulangan kenaikan kelas II, karena saya takut kalau isinya nanti banyak salah, karena waktu itu saya kurang belajar untuk menghadapi ujian tesebut. Biarpun tidak percaya diri, ternyata saya bisa juga mengerjakan ulangan tersebut dengan baik. Saya sangat berterimakasih atas pemberiaan Allah kemampuan saya sehingga saya bisa naik kelas II SMP, dengan mendapatkan rengking 4 dari 20 murid kelas I.
Seperti biasanya saya kalau libur sekolah, saya membantu orang tua kerja sampai masuk ajaran baru lagi. Selama libur kenaikan kelas saya, Ibu dan Kakak setiap pagi angkat kerja noreh karet di Danau Aduk mengunakan perahu bandung dengan menempuh perjalanan 1 jam dan berangkat dari rumah habis salat subuh. Pekerjaan inilah yang saya lakukan setiap liburan sampai masuk lagi sekolahnya.
Sekarang saya sudah kelas II SMP, yang mana awalnya kelas I. Pada saat kelas II lah saya baru terkecimpung dalam organisasi sekolah (OSIS) selama saya kelas II. Dengan semangatnya teman menjalankan OSIS sehingga kami bisa kunjung kemana-mana. Kegiatan sekolah pun banyak yang kami adakan seperti Pramuka, Olahraga dan Kesenian. Dibidang Olahraga kami pernah menampatkan juara I bolla kaki tingkat Kabupaten di Putussibau tahun 2002, waktu itu kami bergabung dengan kecamatan Bunut Hilir, Embaloh dan Jongkong. Yang mana paling banyak permainanya adalah SMP kami. Sedangkan didalam bidang Kesenian kami pernah dimenampilkan tari jepin, poco-poco, dan tarian api di berbagai kegiatan seperti perlepasan ikan arawana didanau lindung dan acara lainnya.
Dikelas II lah saya mulai jatuh cinta dengan seorang cewek, dia berasal dari Desa Teluk Aur yang mananya Eka Wanti. Dialah yang selalu memberikan semangat dalam hidupku menjalani pendidikan. Tetapi sampai kelas 3 cinta kami berdua berakhir hingga sekarang. Tidak lama kemudian kami ulangan kenaikan kelas III , dikelas II inilah saya kurang belajar sehingga saya mendapatkan rengking ke 7 dari 20 siswa. Biarpun nilai saya menurun, masih tetap naik kelas III. Dikelas III lah saya benar-benar belajar dan tidak lagi mengikuti kegiatan sekolah, karena untuk menghadapi ujian Nasioal.
Dalam masa dikelas III, kami selalu ada pelajaran tambahan dari sekolah yaitu les selama sebelum datangnya ujian Nasional. Sekitar 2 minggu mau ujian teman-teman sudah ada rencana untuk melanjuti kesekolah SMA dan Aliyah, sementara saya tidak tahu melanjutkan atau tidak karena ibu saya tidak mampu membiayai saya ke SMA. Tidak lama kemudian datanglah abangku (engah), dari kampung nenekku dia bilang “ kamu sekolah lagi ndak? Kalau sekolah aku sanggup membiayai kamu sekolah” dengan wajah yang tersenyum melirik saya. Setelah saya mendengar dari kata-kata itu, saya pengen sekali melanjuti ke SMA atau Aliyah.
Setelah saya mendengar dari ucapan abangku (engah), saya semangat belajar dengan harapan bisa lulus dan bisa melanjuti ke SMA atau Aliyah. Tidak lama kemudian kami menghadapi ujian Nasional yang mana semua sekolah tingkat SMP atau MTS di seluruh Indonesia. Pada hari itulah menentukan kelulusan selama tiga tahun bertualangan di SMP. Alhamdulilah, dengan perjuangan kami semua dan berkat pertolongan Allah SWT, sehingga kami lulus semua dengan nilai yang terbaik.
Setelah perpisahan dengan teman-teman dan para dewan guru, sekitar satu minggulah, paman saya yang kerja sebagai KUA di Putussibau girim surat kepada saya, bahwa dia mau gambil aku harus sekolah ke Putussibau. Kata ibuku “ya udah berangkat saja malu kalau enak mau dan itu kesempatan kamu bias meraih cita-cita” sambil tersenyum. Sebelum saya berangkat ke Putussibau, saya kerja cari duet untuk ongkus ke Putussibau.
Sekitar tiga minggu saya kerja, saya lalu berangkat ke Putussibau dengan sendirian mengunakan bis dari Jongkong ke Putussibau dengan biaya waktu itu Rp 50.000 satu orang, dengan menempuh perjalanan 7 jam. Datang ke Putussibau saya bengung mau kemana cari rumah pamanku, karena saya baru pertama kali ke Putussibau. Kemudian saya tanya sama tokoh kecil disebelah terminal bis “ ass, ibu saya mau tanya tahu tidak jalan ini dan boleh tidak nolong aku cari alamat ini?”, kata ibu itu “ walikumsalam, saya tidak tahu alamat ini, ya udah saya lihat no telepon alamat itu”, ternyata alamat yang saya cari itu masih keluarga ibu itu. Karena pada waktu itu paman saya sudah pindah dari alamat yang saya tuju.
Setelah itu saya diantar kerumah tempat paman saya dengan mengunakan sepeda motor. Sudah tiga hari saya di Putussibau baru ada pembukaan sekolah SMA dan Aliyah. Saya bingung memilih dimana saya harus sekolah, kata paman saya “ kamu sekolah di Aliyah jak, karena sekolah situ banyak pelajaran tentang agama”. Saya tertarik dengan sekolah Aliyah, saya mencoba mendaftar di sekolah Aliyah melalui tes selama satu hari. Alhamdulilah, saya diterima di MAN 1 Putussibau yang ada satu-satunya di Putussibau. Pada waktu itu sekolah Aliyah masih minjam gedung MIN dan kami masuk sekitar jam 12.00 wib, setiap hari saya jalan kaki berangkat sekolah. Tak lama kemudian paman saya baru beli motor, barulah saya diantar dengan sepeda motor dan pulangnya dijemput.
Sekitar tiga bulan saya tidur ditempat paman saya, ada seorang anggota dewan Kapuas Hulu, namanya pak Zainudin, S,ag teman paman saya waktu kuliah di Pontianak, dia gajak saya jualan bakso. Saya terkejut, kata pak Zai “ Hakim, mau gak jual bakso? Hakim tingal jual jak yang masaknya ada teman Hakim”, saya menjawab “ pak, saya tidak pernah jualan bakso dan saya tidak pernah yang namanya jualan”, kata pak zai “ nanti Hakim tahu sendiri jualnya dan Hakim bisa mendapatkan uang sendiri tanpa dikirim orangtua Hakim”, saya menjawab “ya pak, saya menjoba”. Malam pertama saya jual bakso bersama teman yang namanya Udin, alhamdulila banyak laku dengan jualan keliling itulah kerja saya setiap malam dan siangnya sekolah. Saya kerja jual bakso selama hampir satu tahun dua bulan, barulah saya berhenti jual bakso. Selama saya dikelas I Aliyah, saya bisa membiayai sendiri dengan jual bakso, pada waktu itulah saya tidak pernah belajar, karena malam jual bakso, tetapi biarpun saya kurang belajar nilai saya sedang-sedang saja, tidak rendah dan tidak tinggi. Dikelas satu inilah kaka saya nikah dikampung, rasa pengen balik tapi saya tidak bisa karena pada waktu itu kami masih ulangan kenaikan kelas II.
Setelah saya kelas II Aliyah, barulah tidak jual lagi bakso karena paman saya tidak mengizinkan lagi. Setiap hari saya berangkat kesekolah mengunakan sepeda dari rumah paman kesekolah sekitar 20 menit barulah sampai. Pulang dari sekolah sekitar jam 02.00 siang, dikelas II inilah saya mulai menggikuti kegiatan ekstrakulikulir disekolah yaitu menggikuti paskibra sekolah dan masuk angkota osis, menjabat sebagai wakil osis. Tidak lama kemudian paskibra mau menyeleksi pemilihan paskibra Kabupaten dan Provinsi pada saat 17 Agustus. Saya mencoba menggikuti penyeleksiaan ini, karena diri dulu saya sangat bangga sekali kalau terpilih pengibaran bendera putih. Ada beberapa tes untuk menjadi paskibra Kabupetan dan Provinsi yaitu : tes tulisan (matimatika, Bahasa Inggris, dan materi dari paskibra), tes fisik (pus af, sket jam, lari dan PBB), dan tes mental mental. Peserta dari beberapa sekolah yang mewakili terdiri dari satu sekolah 2 0rang diutus. Sehingga semua peserta terdiri dari 40 orang yang menggikuti tes tersebut, sedangkan yang diterima sebanyak 37 0rang.
Alhamdulilah ternyata saya bisa terpilih sebagai paskibra Kabupaten dan Provinsi dengan semangat saya latihan paskibra. Pada waktu itu kami masuk kalantina selama satu bulan lebih didik sebagai paskibra yang sejati. Di paskibra saya di pasukan delapan sebagai penarik tali pada saat pengibaran sang bendera putih. Dengan menggikuti kegiatan inilah saya banyak pengalaman yang cukup membanggakan diri saya sendiri, karena banyak ilmu yang diajarkan diluar sekolah, seperti cara menjadi pemimpin, ketegasan, kedesiplinan dan lain-lain. Setelah saya selesai mengikuti paskibra, di sekolah saya ditunjukan sebagai ketua osis selama dikelas II. Pada massa saya menjadi ketua osis kegiatan yang saya jalankan seperti Paskibra sekolah, Saka Bayang kara, Saka Kencana dan Rohis.
Setelah saya kelas III, saya pindah dari rumah paman karena jauh dari rumah ke sekolah, pada waktu kami ada les malam jadi terpaksa pindah ke asrama Aliyah yang tidak jauh dari sekolah bisa jalan kaki dan barulah saya berhenti dari kegiatan dan organisasi disekolah, karena ingin prokus belajar menghadapi ujian nasional. Tetapi kegiatan masih dikontrol oleh saya, karena bapak kepala sekolah masih percaya sama saya mengurusi kegiatan tersebut. Sekitar tiga bulan mau ujian kami mengadakan les setiap hari dari jam 01.00 sampai jam 03.00 sore, selain dari pada les siang kami juga ada les tambahan yaitu les pada malam hari dari jam 07.30 sampai 09.00 malam. Dengan perjuangan kami semua ternyata tidak sisia, kami yang jurusan IPA lulus semua pada saat pengumuman hasil ujian nasional. Pada waktu itu saya begung mau kemana setelah selesai tamat dari sekolah Aliyah.
Pada sesuatu hari, ada pembukaan pelambaran menjadi anggota TNI yaitu Caba. Saya coba melambar TNI di Pontianak, yang cari hanya 100 orang anggota TNI. Pada saat itu dari utusan Kapuas Hulu hanya 6 orang yang bisa tes di Pontianak. Ketika tes di Pontianak ternyata jumlah semua yang ikut tes menjadi TNI sebanyak 800 orang, sedangkan yang cari hanya 100 orang. Tes pertama administrasi seperti surat-meyurat persyaratan yang telah ditentukan penetia penerimaan anggota TNI, dari utusan Kapuas Hulu lulus semua, setelah tes administrasi kami tes kesehatan pertama yaitu mata, bekas-bekas luka yang ada ditubuh kita, perisis, gigi, lubang hidung, lubang telingga, dan periksa kelamuan dan lubang dubur, dari 800 0rang sisa lagi hanya 670 orang yang lulus tes kesehatan pertama termasuk utusan Kapuas Hulu sisa lagi kami berempat orang duanya tidak lulus. Setelah tes kesehatan pertama kami tes jas, yaitu lari, pus ap, renang, sket jam dan PBB. Ternyata banyak gugur yaitu sebanyak 250 orang, sisi lagi 420 orang, sedangkan Kapuas Hulu sisa kami bertiga. Kemudian kami tes fisikotes, disinilah parapeserta banyak yang gugur sebanyak 20 orang sedangkan yang lulus hanya 220 orang. Alhamdulilah utusan Kapuas Hulu kami bertiga tidak ada yang gugur tes fisikotes. Setelah tes fisikotes kami diliburkan selama satu minggu, karena meyambut bulan puasa. Selama liburan bagi yang jauh dari Pontianak kami diizinkan tidur di Asrama tentara. Sedangkan sebelumnya kami tidur di Aula TNI. Setiap malam kami yang tidur di asrama TNI, kami mengadakan kegiatan yaitu kultum setiap selesai salat subuh sama salat zohor di masjid dekat kantor TNI.
Setelah kami libur satu minggu, kami melanjutkan tes yang ke 5 kali yaitu tes kesehatan kedua yaitu tes kesehatan yang didalam tubuh kita seperti paru-paru, bekas-bekas yang ada oprasi, penyakit didalam tubuh kita dan darah kita. Tes ksesehtan kedua inilah banyak gugur, tinggal kami 130 orang sedangkan anak Kapuas Hulu hanya kami berdua yang masih bertahan. Sedangkan tes selanjutnya yaitu tes wawancara seperti tanya mengapa tahu mau masuk tentara, siapa nama bapak, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, paman, bibik, keponakan, dan jumlah semuanya berapa orang. Tes wawancara gugunya hanya 20 orang, sedangkan sisanya 110 orang termasuk saya dan teman saya satunya. Tes yang terakhir yaitu pentohir, yang menentukan siapa yang termasuk 10 orang yang harus digugurkan. Sudah satu bulan 10 hari saya ikut tes menjadi anggota TNI, ternyata saya gugur di tes terakhir yaitu pentohir (tes keseluruhan). Pada saat itulah saya merasa kecewa yang sangat berat sehingga pada waktu itu 2 hari saya tidak makan nasi karena masih kesal mengapa saya tidak bisa menjadi TNI.
Terpaksalah satu tahun saya harus pending dulu, dalam satu tahun saya bekerja sebagai nelayan cari ikan di sungai Kapuas ikut paman saya dan noreh getah karet sama Ibuku dan Abangku. Sehingga saya dapat menabung uang dari hasil kerja keras, uang ini rencananya untuk pakai saya beli tempel tapi, ibu dan abangku tidak mengizikan untuk tempel, karena abang saya juga mau beli tempel. ”ini saja uang ini, hakim gunakan untuk kuliah saja tahun depan,,,ye?” ujar si ibuku, kemudian abangku bilang juga ”ye, betul kata mamak (umak) uangnnya dipakai adek kuliah, kalau uangnya kurang tahu abang yang nambahkan asalkan adek kuliah”, saya menjawab ”ya, sudahlah kalau memang mamak dan abang sudah mengizinkan untuk kuliah, saya akan kuliah”. Pada waktu itu saya bengung mau kuliah dimana dan jurusaan apa? Kemudian saya menghubungi paman yang ada di Putussibau kata paman ”kuliah di STAIN jak atau di Untan, tapi yang paling bagus kuliah di STAIN karena kamu tamatan Aliyah”, lalu saya menjawab ”ya paman”. Setelah itu saya hubungi teman yang kuliah di Pontianak sama-sama satu sekolah dan satu kelas pada waktu itu, namanya si Ahmad Rizal, Rangga dan Eko. Kata mereka pembukaan di Untan dan STKIP sudah tutup, yang belum dibuka hanya di STAIN, sedangkan di STAIN pembukaannya gelombang pertama bulan 7 tanggal 24 sampai tanggal 27 bulan 7. saya langsung bilang sama mamak dan abangku, saya kuliah di STAIN, kata mereka berdua terserah saya mau kuliah dimana.
Tidak lama kemudian saya berangkat ke Pontianak sendirian mengunakan motor air dari kampung sampai ke Sintang, dengan menempuh 28 jam. Setelah itu saya nyambung lagi mengunakan bis dari Sintang ke Pontianak, dengan menempuh perjalanan selama 11 jam. Satu hari sudah di Pontianak barulah pembukaan gelombang pertama di STAIN dibuka, saya pergi ke STAIN diantar oleh kawanku yang mahasiswa STAIN juga yaitu Rizal dan Eko, untuk ikut daftar gelombang pertama. Pertama kali saya pergi kekampus bejalan kaki dari kost, setelah datang kekampus saya lihat banyak sekali orang yang daftar ke STAIN. Kemudian saya nanya sama pegawai di STAIN mau lihat brosor, langsung dari oleh pegawai yang petugas sebagai penerimaan mahasiswa baru. Sebelum daftar saya dibagikan buku brosor dari kampuas STAIN, untuk memilih jurusan yang kita ingikan yaitu jurusan Tarbiyah terbagi dua jurusan PAI dan PBA, sedangkan jurusan Dakwah terbagi dua juga yaitu jurusan Dakwah BPI dan Dakwah KPI, dan jurusan Syariah.
Setelah saya baca brosornya, langsung tetarik dengan jurusan dakwah KPI karena saya suka yang namanya nulis dan pengen jadi wartawan , makanya saya milih jurusan dakwah KPI. Pada waktu itu saya dua jurusan yaitu dakwh KPI dan PAI, karena saya pikir kalau tidak lulus di dakwah KPI, pasti lulus di PAI. Tidak lama kemudian kami tes, tes yang pertama adalah tes tulis dan kedua tes menulis shurah tanpa melihat buku, yaitu shurah Al-Fatihah dan An-Anaas, hari yang kedua kami tes wawancara cuman yang ditanya nama lengkap, mengapa masuk ke STAIN, apakah mengikuti teman saja, jurusan apa, visi dan misi masuk ke STAIN. Dengan tantangan tersebut saya bisa menghadapi dengan santai karena tes tidak susah bagi saya, Alhamdulilah setelah pengumuman ternyata saya diterima sebagai mahasiswa STAIN Pontianak jurusan dakwah KPI.
Saya sangat bangga sekali telah terpilih sebagai mahasiswa STAIN jurusan dakwah KPI, karena tidak semua orang bisa menjadi dakwah Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Tidak lama kemudian kami mengikuti OPAK dari kampus yang nama kegiatan ini dilaksanakan setiap mahasiswa yang masuk baru. Pelaksanaan OPAK ini selama 3 hari saja, yang mana kegiatan ini sangat mendidik dan mendapatkan teman yang banyak. Pada waktu itu saya kelompok 3 dan nama kelompoknya Abu Bakar Sidik dengan jumlah kelompoknya ada 45 0rang satu kelompok. Setiap hari kami harus membawa makanan sendiri yang ditentukan oleh penitia, kata penitia kalian harus hadir dikampus jam 06.00 pagi dan tidak boleh ada yang telambat, kalau ada yang telambat ada sanksinya dari kami dan pulang sekitar jam 05.00 sore. Hari pertama kami diperintahkan membawa makanan nasi lauk telur mata sapi, dan mie rebus dan air putih berukuran 250 liter, air teh susu sebanyak ukuran 125 liter dan kuenya donat 2 butik dan keroket 3 butik. Kemudian pakaian kami mengunakan kopiyah, baju putih, celana kain warna hitam, mengunakan ikat pingang warna hitam, pakai papan nama warna sesuai dengan jurusan masing-masing, karena saya jurusan dakwah mengunakan warna hijau, sepatu warna hitam, kaus warna hitam, dan rambutnya ukuran 1-1-2. hari kedua kami diperintahkan membawa nasi putih lauk mei dan telur asing, airnya seperti hari pertama dan kuenya lepat pisang sama kue agar-agar. Sedangkan hari yang ketiga, kami diperintahkan hanya beda pada hari yang kedua cuman kami membawa telur burung puyuh dan kacang hijau, setiap hari kami melaksanakan dengan baik tanpa adanya halangan apapun.
Semester pertama nilai IP saya tidak mencapai 3 hanya dapat IP 2,90, dengan nilai mata kuliah: Ilmu Dakwah (B), Ilmu Kalam (B), Akidah Akhlak (A). Peraktik Ibadah dan Qiro’ah (A), sesiologi (C)Bahasa Indonesia (A), Bahasa Inggris 1 (C), Bahasa dan mata kuliah Arab 2 (C). Setiap hari saya bejalan kaki menuju kampus dari jalan Iman Bonjol Gang Geruda II menempuh perjalanan 20 menit, biasanya berangkat dari jam 07.00 pagi, pas datang kekampus sekitar jam 07.20 menit, dengan biaya kost satu bulan 120.000 dan setiap bulan kiriman orangtua hanya 40.000 sudah paling banyak. Saya harus berjuang semester II, IPnya harus mencapai 3 atau lebih. Alhamdulilah, semester II saya tidak lagi jalan kaki karena sudah dibelikan paman dengan motor Soghun R dengan harga 4 juta 6 ratus ribu. Kegiatan yang saya ikuti di kampus hanya LPM, karena kegiatan ini sesuai dengan kejurusan dakwah KPI, yang mana kegiatan ini mendidik menajadi jurnalistik dan wartawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar